
COVID-19 – Long COVID sebabkan kematian lebih dari 3.500 warga di AS

Seorang tenaga kesehatan mengambil sampel usap dari seorang pria di sebuah lokasi tes COVID-19 di Times Square di New York, Amerika Serikat, pada 17 Mei 2022. (Xinhua/Wang Ying)
Kematian akibat Long COVID di Amerika Serikat (AS) mencapai angka 3.544 orang, menurut laporan penelitian terbaru, menekankan seberapa parah dampak SARS-CoV-2 mungkin tetap ada setelah era pandemik berlalu.
Jakarta (Indonesia Window) – Kematian akibat Long COVID di Amerika Serikat (AS) mencapai angka 3.544 orang, menurut sebuah penelitian pemerintah, menekankan seberapa parah dampak SARS-CoV-2 mungkin tetap ada setelah era pandemik berlalu.Kematian akibat infeksi virus corona tersebut memuncak pada bulan Februari lalu dan lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita, menurut analisis sertifikat kematian pada 7 Oktober lalu yang dilakukan oleh Divisi Statistik Vital Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC).Hampir delapan dari 10 kematian akibat Long COVID terjadi pada warga kulit putih, dengan orang kulit hitam menjadi kelompok kedua yang paling terkena dampak, yakni sekitar 10 persen dari total.Infeksi COVID-19 telah membunuh lebih dari 1 juta orang di AS, menurut CDC. Dengan dampak gangguan kekebalan, jantung, dan otak, Long COVID tidak memiliki pengobatan yang disetujui dan telah memengaruhi sebanyak 23 juta orang di AS pada berbagai tingkat keparahan. Para peneliti Universitas Harvard memperkirakan penyakit ini mungkin menelan biaya 3,7 triliun AS.Banyak lembaga akademik dan organisasi penelitian sedang mempelajari penyakit ini untuk menemukan cara terbaik dalam pencegahan dan pengobatan, karena masih menjadi misteri. Meskipun ada beberapa bukti bahwa Long COVID lebih jarang terjadi pada orang yang telah divaksinasi, kondisi tersebut dapat muncul pada orang yang menderita infeksi virus corona ringan atau berat.Gejala COVID-19 yang berkepanjangan dapat menunjukkan gejala sedang, seperti kelelahan dan kabut otak (brain fog), hingga yang lebih serius, termasuk masalah pernapasan dan jantung.Sebagian besar kematian akibat Long COVID terjadi pada lanjut usia, dengan sekitar tiga perempat orang berusia 65 tahun ke atas. Tidak ada tes diagnostik untuk Long COVID karena penyebabnya tidak dipahami dengan baik.Para peneliti melihat sertifikat kematian AS untuk berbagai istilah yang digunakan untuk menggambarkan COVID-19 jangka panjang, seperti ‘COVID-19 kronis’, ‘COVID-19 jangka panjang’, atau ‘gejala sisa pasca-akut dari COVID-19’.Sumber: Bloomberg; Al Arabiya EnglishLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Israel tewaskan sedikitnya 38 orang di Gaza yang sedang menunggu bantuan
Indonesia
•
28 Jun 2025

Serangan Israel kian intens, ribuan warga Palestina mengungsi dari Khan Younis
Indonesia
•
25 Jan 2024

DPR AS loloskan RUU untuk cegah aksi mogok pekerja kereta api
Indonesia
•
01 Dec 2022

Lindungi anak, China tindak mikrodrama bermuatan konten tak pantas
Indonesia
•
11 Jan 2026


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
