UNICEF targetkan dana 7,66 miliar dolar AS untuk dukung penyelamatan nyawa anak pada 2026

Krisis pendanaan global

Sejumlah anak Palestina bermain di sebuah tempat penampungan sementara di dekat pantai di sebelah barat Gaza City pada 10 November 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Krisis pendanaan global saat ini tidak mencerminkan penurunan dalam kebutuhan kemanusiaan, melainkan kesenjangan yang semakin lebar antara skala penderitaan dan sumber daya yang tersedia.

PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) meluncurkan seruan Aksi Kemanusiaan untuk Anak-anak (Humanitarian Action for Children) 2026 pada Rabu (10/12), menargetkan dana sebesar 7,66 miliar dolar AS untuk memberikan dukungan penyelamatan nyawa bagi 73 juta anak di 133 negara dan kawasan pada tahun depan.

*1 dolar AS = 16.688 rupiah

Seiring makin intensifnya pemangkasan pendanaan global dan runtuhnya layanan dasar, kebutuhan kemanusiaan bagi anak-anak terus meningkat, kata Farhan Haq, wakil juru bicara sekretaris jenderal PBB, dalam sebuah taklimat pers harian.

Pemangkasan pendanaan oleh negara donor, baik yang sudah diumumkan maupun yang diperkirakan, telah membatasi kemampuan UNICEF untuk menjangkau jutaan anak yang sangat membutuhkan, papar Haq, seraya menambahkan bahwa kekurangan dana yang parah pada 2024 dan 2025 memaksa UNICEF untuk membuat pilihan-pilihan yang mustahil.

Sebagai contoh, dalam program gizi UNICEF saja, kekurangan dana sebesar 72 persen pada 2025 telah memaksa pemangkasan di 20 negara prioritas, dan dalam bidang pendidikan, kekurangan dana sebesar 745 juta dolar AS telah mengakibatkan jutaan anak lainnya berisiko kehilangan akses terhadap pembelajaran, perlindungan, dan stabilitas, tutur Haq.

"UNICEF mendesak pemerintah dan para donor untuk meningkatkan pendanaan yang fleksibel dan multitahun, mendukung mitra-mitra lokal, menjunjung prinsip-prinsip kemanusiaan, serta memastikan akses bagi anak-anak yang membutuhkan," ujar Haq.

Dalam sebuah rilis pers, UNICEF menyebutkan bahwa dari 73 juta anak, 37 juta di antaranya adalah perempuan dan lebih dari 9 juta menyandang disabilitas.

"Di seluruh dunia, anak-anak yang terjebak dalam konflik, bencana, pengungsian, dan gejolak ekonomi terus menghadapi tantangan yang luar biasa," ungkap Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell dalam rilis tersebut. "Hidup mereka dibentuk oleh kekuatan yang berada jauh di luar kendali mereka: kekerasan, ancaman kelaparan, guncangan iklim yang semakin kuat, dan kehancuran layanan-layanan esensial yang meluas."

Krisis pendanaan global saat ini tidak mencerminkan penurunan dalam kebutuhan kemanusiaan, melainkan kesenjangan yang semakin lebar antara skala penderitaan dan sumber daya yang tersedia, tutur Russell, sembari memperingatkan bahwa "meski UNICEF berupaya beradaptasi dengan realitas baru ini, anak-anak sudah menanggung akibat dari menyusutnya anggaran kemanusiaan."

Menurut UNICEF, lebih dari 200 juta anak akan membutuhkan bantuan kemanusiaan pada 2026.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait