
Studi sebut perubahan iklim ubah laguna pesisir jadi "sup garam" dan ganggu ekosistem

Foto ini memperlihatkan pemandangan puncak Seongsan Ilchulbong di Pulau Jeju, Korea Selatan, pada 16 Mei 2025. (Xinhua/Jun Hyosang)
Laguna pesisir merupakan ekosistem esensial yang menopang sektor perikanan, melindungi garis pantai dari badai, dan berfungsi sebagai habitat yang sangat penting bagi ikan, krustasea, dan burung migran.
Adelaide, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Perubahan iklim dan aktivitas manusia mengubah laguna pesisir menjadi lebih asin, sehingga mengancam keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis laguna tersebut, ungkap penelitian dari Universitas Adelaide Australia.Laguna pesisir merupakan ekosistem esensial yang menopang sektor perikanan, melindungi garis pantai dari badai, dan berfungsi sebagai habitat yang sangat penting bagi ikan, krustasea, dan burung migran. Produktivitas laguna pesisir sangat bergantung pada keberagaman komunitas mikroba yang mendaur nutrien dan mendukung kekayaan keanekaragaman hayati, urai rilis pers dari Universitas Adelaide Australia pada Rabu (14/5).Namun, meningkatnya suhu, kekeringan yang berkepanjangan, berkurangnya curah hujan, dan kenaikan permukaan air laut, ditambah faktor aktivitas manusia seperti pengalihan air, pembangunan perkotaan, dan penipisan air tanah, meningkatkan kadar garam di laguna menuju kadar yang ekstrem (hypersalinity), ujar Chris Keneally dari Universitas Adelaide. Keneally merupakan peneliti utama dalam studi yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah peer-reviewed bulanan Earth-Science Reviews tersebut.Perubahan ini menyebabkan mekarnya alga dan dominasi mikroba yang toleran terhadap garam, sehingga mengganggu berbagai proses penting, seperti siklus karbon, retensi nutrien, dan emisi gas rumah kaca, papar Keneally."Satu musim panas yang terik dan kering, seperti yang baru-baru ini kami alami, dapat sepenuhnya mengubah habitat penting tersebut menjadi sup hijau yang asin," sehingga mengurangi keanekaragaman hayati dan meningkatkan risiko kematian ikan, pertumbuhan alga beracun, dan hilangnya perlindungan banjir di area pesisir, tutur Keneally. Dia menambahkan bahwa laguna di daerah kering dan semikering, seperti yang ada di Australia, Mediterania, dan Teluk Persia, menjadi sangat rentan.Studi ini menunjukkan berbagai solusi praktis, termasuk pemulihan aliran air lingkungan, penyempurnaan pengolahan air limbah, pembangunan kembali lahan basah, dan peningkatan jumlah vegetasi yang toleran terhadap garam guna memperlambat evaporasi.Kabar baiknya, laguna dapat pulih dengan cepat, kata studi tersebut, mencontohkan Laguna Coorong di Australia Selatan. Dalam beberapa bulan pascabanjir Murray-Darling pada 2022, Laguna Coorong dapat pulih dan memperoleh kembali keberagaman mikroba maupun fungsi ekologisnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti identifikasi 275 juta varian genetik baru
Indonesia
•
21 Feb 2024

COVID-19 – Vietnam uji vaksin buatan domestik kedua pada manusia
Indonesia
•
09 Jan 2021

China luncurkan teleskop radio baru di Antarktika
Indonesia
•
09 Apr 2025

Brasil kenalkan jet tempur supersonik F-39E Gripen pertama yang diproduksi di dalam negeri
Indonesia
•
27 Mar 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
