
Laporan PBB ungkap lapisan ozon alami ‘pemulihan’

Langit biru di sebuah area di kawasan Sentul City, Bogor, Jawa Barat, pada 24 April 2025. (Indonesia Window)
Lapisan ozon pelindung Bumi kini berada di jalur pemulihan menuju level era 1980-an yang akan dicapai pada pertengahan abad ini, sehingga secara signifikan mengurangi risiko kanker kulit, katarak, dan kerusakan ekosistem akibat paparan sinar UV yang berlebihan.
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Lapisan ozon pelindung Bumi menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dan lubang ozon pada 2024 teramati mengecil dibandingkan beberapa tahun terakhir, ungkap badan meteorologi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), World Meteorological Organization (WMO), dalam sebuah laporan pada Selasa (16/9).Rendahnya tingkat penipisan ozon yang diamati pada 2024 sebagian disebabkan oleh faktor-faktor atmosferik yang terjadi secara alami dan mendorong fluktuasi secara tahunan (year-to-year). Kendati demikian, tren positif jangka panjang itu mencerminkan keberhasilan aksi internasional bersama, lapor Ozone Bulletin yang diterbitkan oleh WMO.Laporan itu menghadirkan kabar ilmiah menggembirakan bagi kesehatan umat manusia maupun kesehatan planet ini. Buletin tersebut diterbitkan untuk memperingati Hari Ozon Sedunia, yang jatuh pada Selasa, dan 40 tahun Konvensi Wina, yang mengakui penipisan ozon stratosfer sebagai masalah global dan menyediakan kerangka kerja untuk memobilisasi kerja sama internasional dalam penelitian ozon, observasi sistematis, serta evaluasi ilmiah."Empat puluh tahun yang lalu, negara-negara bersatu untuk mengambil langkah pertama dalam perlindungan lapisan ozon, dipandu oleh ilmu pengetahuan, bersatu dalam aksi," ujar Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres."Konvensi Wina dan Protokol Montreal menjadi tonggak keberhasilan multilateral. Saat ini, lapisan ozon sedang pulih. Pencapaian ini mengingatkan kita bahwa jika negara-negara mengindahkan peringatan dari ilmu pengetahuan, perbaikan dapat terwujud," imbuh Guterres.Menurut penyelidikan di dalam laporan itu, hingga saat ini, Protokol Montreal telah mendorong penghapusan lebih dari 99 persen produksi dan konsumsi zat pengurai ozon yang terkendali, yang digunakan dalam perangkat refrigerasi, pendingin udara, busa pemadam kebakaran, dan bahkan semprotan rambut (hairspray). Hasilnya, lapisan ozon kini berada di jalur pemulihan menuju level era 1980-an yang akan dicapai pada pertengahan abad ini, sehingga secara signifikan mengurangi risiko kanker kulit, katarak, dan kerusakan ekosistem akibat paparan sinar UV yang berlebihan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Mesir temukan sisa peninggalan benteng militer periode Ptolemeus dan Romawi di Sinai
Indonesia
•
05 May 2025

Menilik kegagahan Shandong, kapal induk pertama yang diproduksi di China
Indonesia
•
23 Dec 2024

China terapkan iptek untuk tingkatkan kualitas pemuliaan biologis dan varietas benih
Indonesia
•
12 Feb 2024

Feature – Robot humanoid dikerahkan di lini perakitan presisi di China
Indonesia
•
16 Apr 2026


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
