
Feature – Penggembalaan ilmiah tingkatkan hasil panen dan kualitas lingkungan

Foto dari udara yang diabadikan pada 10 Maret 2022 ini menunjukkan sebuah basis penangkaran di wilayah Maqu yang berada di Prefektur Otonom Etnis Tibet Gannan, Provinsi Gansu, China barat laut. (Xinhua)
Larangan penggembalaan telah diberlakukan di sekitar 853.000 hektare padang rumput di Maqu, di hulu Sungai Kuning, dan para penggembala menerima kompensasi senilai lebih dari 450 juta yuan atau sekitar 63,4 juta dolar AS.
Lanzhou, China (Xinhua) – Jing Xiaoping telah membuat ‘laboratorium’ miliknya di padang rumput yang luas di Provinsi Gansu, China barat laut.Peneliti pascadoktoral (postdoctoral fellow) berusia 33 tahun ini, bersama dengan beberapa teman sekolahnya di Sekolah Tinggi Ekologi Universitas Lanzhou, memberi pakan yak dengan pakan hijauan proporsional di padang rumput yang berada di wilayah Maqu. Salah satu dari mereka dapat dengan mudah mengangkat bungkusan besar pakan hijauan, sementara yang lain dapat dengan mahir mengendarai sepeda listrik roda tiga.Terletak di ujung timur laut Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, Maqu, yang berarti ‘Sungai Kuning’ dalam bahasa Tibet, merupakan kawasan utama konservasi air di hulu Sungai Kuning. Lahan basah di Maqu mencakup area seluas lebih dari 373.000 hektare.Tim Jing telah melakukan penelitian di Maqu sejak Juli tahun ini. Para anggota tim tinggal di dekat rumah-rumah penggembala dan bekerja di kandang domba dan yak setempat.Mereka menggunakan jerami, dedak gandum, dan bubur kacang (bean pulp) guna mengoptimalkan teknik pemberian pakan serta pembiakan untuk berbagai mode pemeliharaan yang berbeda, yang bertujuan untuk menurunkan biaya dan menjaga kualitas daging."Domba dan yak merupakan sumber pendapatan utama bagi para penggembala lokal. Sejalan dengan perubahan metode pengembangbiakan, kebutuhan akan pakan pun semakin meningkat," ungkap Jing.
Jing Xiaoping (pertama dari kanan) bersama anggota timnya menyiapkan pakan ternak yang proporsional untuk yak di wilayah Maqu yang berada di Prefektur Otonom Etnis Tibet Gannan, Provinsi Gansu, China barat laut, pada 7 November 2023. (Xinhua/Wen Jing)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan China luncurkan LLM multimoda pertama di dunia di bidang ilmu geografi
Indonesia
•
21 Sep 2024

Studi: Alat antarmuka otak-komputer tingkatkan fungsi motorik pasien strok
Indonesia
•
23 Apr 2024

Spesies bunga Veronicastrum baru ditemukan di China
Indonesia
•
06 Feb 2023

Studi: Teknik kuantum digunakan untuk tentukan usia Sungai Kuning modern
Indonesia
•
28 Oct 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
