
Sekjen PBB minta Taliban cabut larangan perempuan bekerja dengan PBB

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres berbicara kepada para wartawan di kantor pusat PBB di New York pada 14 Februari 2023. (Xinhua/Xie E)
Larangan perempuan Afghanistan bekerja dengan PBB oleh Taliban dianggap melanggar kewajiban di bawah hukum hak asasi manusia internasional, serta melanggar prinsip nondiskriminasi, yang merupakan prinsip inti yang mendasari Piagam PBB.
PBB (Xinhua) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Rabu (5/4) meminta Taliban untuk mencabut keputusan mereka yang melarang perempuan Afghanistan bekerja dengan PBB, demikian disampaikan juru bicaranya.Sang Sekjen mengecam keras keputusan Taliban untuk melarang perempuan Afghanistan bekerja dengan PBB di Afghanistan, kata juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, dalam sebuah pernyataan. "Ini adalah pelanggaran hak asasi perempuan yang tidak dapat dicabut dari seseorang. Keputusan itu juga melanggar kewajiban Afghanistan di bawah hukum hak asasi manusia internasional, dan melanggar prinsip nondiskriminasi, yang merupakan prinsip inti yang mendasari Piagam PBB."Para staf perempuan sangat penting untuk operasi PBB, termasuk dalam pengiriman bantuan yang menyelamatkan jiwa. Pelaksanaan keputusan ini akan merugikan rakyat Afghanistan, yang jutaan di antaranya membutuhkan bantuan ini, papar pernyataan tersebut."Sekjen PBB menyerukan kepada Taliban untuk segera mencabut keputusan itu dan menghapuskan semua langkah yang membatasi hak perempuan dan anak perempuan untuk bekerja, mendapatkan pendidikan, dan kebebasan bergerak," lanjut pernyataan itu.Presiden Majelis Umum PBB Csaba Korosi juga mengecam keputusan Taliban tersebut, ungkap juru bicaranya, Paulina Kubiak."Langkah ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hak asasi perempuan dan mengganggu kerja PBB di Afghanistan, yang rakyatnya sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. Konsekuensi dari keputusan ini akan merugikan rakyat Afghanistan, khususnya, segmen populasi yang paling rentan," ujar Kubiak.Korosi bergabung dengan Guterres dan lainnya dalam menyerukan kepada Taliban untuk mempertimbangkan kembali keputusan larangan perempuan Afghanistan bekerja dengan PBB dan menjamin hak-hak dasar perempuan, termasuk hak untuk bekerja dan mendapatkan pendidikan. Afghanistan membutuhkan pembangunan berkelanjutan, dan untuk itu, Taliban harus memobilisasi potensi penuh negara tersebut, imbuhnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Gallup: 38 persen orang dewasa di AS tunda perawatan medis karena biaya
Indonesia
•
20 Jan 2023

UNRWA: 200 hari konflik Israel-Hamas, 1 juta lebih warga Gaza kehilangan tempat tinggal
Indonesia
•
25 Apr 2024

WMO: Tahun 2023 jadi tahun terpanas yang pernah tercatat
Indonesia
•
14 Jan 2024

Laporan ADB: Asia dan Pasifik entaskan 2,7 miliar orang dari kerawanan air, namun degradasi ekosistem ancam progres
Indonesia
•
10 Dec 2025


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
