
Tim ilmuwan China kembangkan lidah buatan untuk ukur tingkat kepedasan

Foto tak bertanggal ini menunjukkan beberapa jenis cabai. (Indonesia Window)
Lidah bionik baru mencampurkan susu bubuk, asam akrilat, dan kolin klorida menjadi gel yang lembut dan fleksibel, sehingga bisa digunakan untuk mengukur tingkat kepedasan dan berpotensi merevolusi pengendalian mutu dalam industri makanan.
Shanghai, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan China mengembangkan lidah buatan yang dapat berkata, "Ya, itu pedas!"‘Pengukur kepedasan’ berbasis gel tersebut memberikan penilaian tingkat kepedasan yang cepat dan tepat, sehingga penguji rasa manusia tidak perlu takut terhadap rasa pedas dan berpotensi merevolusi pengendalian mutu dalam industri makanan.Mengambil inspirasi dari kemampuan susu untuk meredakan langit-langit mulut yang terbakar, para peneliti di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China Timur (East China University of Science and Technology/ECUST) mengembangkan lidah bionik baru dengan mencampurkan susu bubuk, asam akrilat, dan kolin klorida menjadi gel yang lembut dan fleksibel.Mekanisme ini terinspirasi oleh fenomena dunia nyata di mana protein susu mengikat capsaicin, senyawa yang bertanggung jawab atas rasa pedas dalam cabai, sehingga mengurangi sensasi terbakar, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di ACS Sensors.Demikian pula, capsaicin menempel pada protein susu dalam gel, menggelembung menjadi gumpalan besar yang menghambat pergerakan ion klorida dan hidrogen. Penurunan arus listrik yang dihasilkan menghasilkan ‘penggaris siap pakai’ untuk penilaian rasa pedas yang presisi.Tim ‘mencicipi’ delapan cabai berbeda, menciptakan skala kepedasan dari 0 (hambar) hingga 70 (sangat pedas). Hasilnya kemudian dibandingkan dengan penilaian yang dilakukan oleh sensoris panelis manusia terlatih.Peringkat yang diberikan oleh lidah buatan tersebut sangat sesuai dengan konsensus manusia, sekaligus mendemonstrasikan keandalannya, menurut penelitian tersebut.Penemuan ini dapat menciptakan "platform yang kuat untuk aplikasi masa depan yang melibatkan robot humanoid bergerak dan perangkat pemantau rasa pedas portabel," kata tim peneliti.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Dinosaurus sauropoda tertua di Asia Timur ditemukan di Yunnan, China barat daya
Indonesia
•
07 Aug 2025

CDC China: Varian JN.1 tidak tunjukkan perubahan patogenisitas yang mencolok
Indonesia
•
26 Jan 2024

Studi: Pasangan menikah berisiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2
Indonesia
•
14 Feb 2023

Aplikasi AI Libra dukung aktivitas korporasi dan bisnis
Indonesia
•
12 May 2026


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
