
Main medsos 2 jam sehari bisa tingkatkan risiko depresi pada remaja, studi 10 tahun ungkap faktanya

Anak-anak bersepeda di Pulau Rottnest, Australia, pada 25 Oktober 2024. (Xinhua/Ma Ping)
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi selama satu dekade di Australia menemukan bahwa remaja yang menggunakan media sosial (medsos) dua jam atau lebih setiap hari menghadapi risiko depresi yang lebih tinggi dan kesejahteraan yang lebih buruk, terutama pada masa awal remaja.
Studi tersebut menemukan bahwa penggunaan medsos yang lebih tinggi pada usia 12 hingga 18 tahun berkaitan dengan "peningkatan kecil namun nyata dalam masalah kesehatan mental satu tahun kemudian", menyoroti perlunya membatasi waktu penggunaan gawai yang berlebihan, menurut pernyataan yang dirilis pada Jumat (12/6) oleh Institut Penelitian Anak Murdoch (Murdoch Children's Research Institute/MCRI) Australia, yang memimpin penelitian tersebut.
Dipublikasikan dalam Medical Journal of Australia, penelitian ini melacak hampir 1.200 partisipan di Melbourne yang berusia 9 hingga 19 tahun, mengumpulkan data tahunan sebelum pembatasan akses medsos bagi anak di bawah 16 tahun di Australia pada 2025, termasuk skala penggunaan, depresi, kecemasan, kesejahteraan, dan tindakan menyakiti diri sendiri.
Para peneliti mengatakan bahwa tingginya level masalah kesehatan mental, perundungan siber (cyberbullying), serta paparan konten daring berbahaya yang berkaitan dengan penggunaan medsos telah memicu kekhawatiran luas.
Dampak paling nyata terlihat pada anak perempuan berusia 12 hingga 13 tahun, meskipun peningkatan juga terlihat untuk kedua jenis kelamin, kata para peneliti, seraya menambahkan bahwa meskipun peningkatan risiko individu tergolong kecil, hal itu dapat memiliki efek signifikan pada tingkat populasi.
Temuan ini menyoroti masa awal remaja sebagai periode krusial untuk intervensi, kata penulis utama Nandi Vijayakumar, senior research fellow di MCRI dan Universitas Deakin.
Profesor MCRI Susan Sawyer, yang ikut berperan sebagai penulis, mengatakan temuan tersebut menegaskan perlunya batasan yang sesuai usia, program literasi digital yang lebih baik, dan pedoman orang tua yang lebih jelas untuk mengurangi risiko kesehatan mental.
Penelitian MCRI sebelumnya menemukan bahwa hampir tiga perempat remaja Australia mengalami depresi atau kecemasan signifikan secara klinis, yang menggarisbawahi perlunya pencegahan lebih luas di luar perawatan klinis.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Galeri Nasional Inggris peringati dua abad pendiriannya
Indonesia
•
13 May 2024

Akademisi: Pemanfaatan AI untuk kepentingan pemasaran, sebuah keniscayaan
Indonesia
•
01 May 2024

Setelah 150 jam tertimbun, seorang penyintas gempa Turkiye selamat
Indonesia
•
13 Feb 2023

Kisah perantau China ke Asia Tenggara jadi sensasi film, Indonesia termasuk bagian sejarahnya
Indonesia
•
21 Jun 2026


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
