
Pakar serukan peningkatan kesadaran publik untuk atasi perubahan iklim di Eropa

Seorang pria menyejukkan diri di depan sebuah kipas yang dipasang di sekitar Colosseum di Roma, Italia, pada 12 Juli 2024. (Xinhua/Alberto Lingria)
Meningkatnya cuaca ekstrem di Eropa, mulai dari badai dan hujan es hingga banjir dan gelombang panas, merupakan tanda peringatan dampak perubahan iklim yang makin meningkat.
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Banjir yang dipicu oleh badai melanda Bosnia dan Herzegovina bagian tengah pada Jumat (4/10) lalu, mengakibatkan 19 orang tewas dan banyak orang hilang.Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah negara, seperti Polandia, Austria, Republik Ceko, dan Rumania, juga mengalami bencana banjir dahsyat, yang mengakibatkan sedikitnya 26 orang tewas, kerusakan ekonomi, dan gangguan yang meluas.Seorang pakar mengatakan bahwa meningkatnya cuaca ekstrem di Eropa, mulai dari badai dan hujan es hingga banjir dan gelombang panas, merupakan tanda peringatan dampak perubahan iklim yang makin meningkat.“Pada dasarnya, badai besar telah mengepung Eropa Tengah, hujan dalam curah hujan tinggi mengguyur, serta salju di beberapa tempat telah meluruh turun, dan tentu saja, hal itu menyebabkan banjir. Peristiwa seperti ini sangat jarang terjadi. Ini adalah peristiwa abnormal,” ujar Profesor Dinamika Iklim, University of East Angli, Manoj Joshi.Namun, lanjutnya, jumlah hujan yang turun konsisten dengan efek perubahan iklim. “Jadi, ini adalah peristiwa yang kekuatannya sangat mungkin diperparah oleh efek perubahan iklim. Ada bukti bahwa tingkat keparahannya meningkat.”“Melihat kondisi emisi kita saat ini, sepertinya suhu akan terus meningkat hingga 2050. Apa yang terjadi saat ini sebenarnya akan lebih memengaruhi iklim pada 2050-an, 2060-an, dan 2070-an. Terkait bagian krusial dari perubahan iklim, mengurangi emisi saat ini akan memengaruhi suhu yang Anda capai beberapa dekade ke depan. Ini hal yang sangat penting untuk dipahami. Banyak negara memiliki lintasan net zero (net-zero trajectory).”Menurut dia, mencapai target net zero akan menjaga perubahan suhu global seminimal mungkin. “Hal ini tentu saja perlu kita lakukan karena makin tinggi suhu, makin besar kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa seperti yang terjadi saat ini.”“Perubahan iklim merupakan salah satu dari sejumlah masalah lingkungan yang kita hadapi. Jadi, jika kita memikirkan perubahan iklim pada tingkat yang lebih besar berarti juga memikirkan keberlanjutan peradaban kita,” pungkas Manoj Joshi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Nepal berencana batasi jumlah pendaki di tengah masalah sampah pegunungan
Indonesia
•
17 Dec 2025

Argentina umumkan kematian pertama akibat cacar monyet
Indonesia
•
29 Nov 2022

Media: Pendidik keturunan Asia di AS merasa terisolasi dan terbebani
Indonesia
•
19 Jan 2023

Sedikitnya 21 orang tewas akibat banjir besar dan tornado di wilayah barat tengah dan selatan AS
Indonesia
•
08 Apr 2025


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
