
Studi di Selandia Baru tunjukkan El Nino perpanjang musim serbuk sari dan risiko alergi

Seorang wisatawan beristirahat di rerumputan di dekat Sungai Mergel Gol di Hulun Buir, Daerah Otonom Mongolia Dalam, China utara, pada 19 Agustus 2025. (Xinhua/Ma Jinrui)
Musim panas El Nino menghasilkan level serbuk sari yang lebih tinggi, sementara kondisi La Nina yang lebih basah menekan pelepasan serbuk sari.
Wellington, Selandia Baru (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi di Selandia Baru menemukan bahwa tahun-tahun El Nino memiliki kaitan dengan musim serbuk sari rumput yang lebih panjang dan lebih intens, sehingga meningkatkan risiko bagi penderita rinitis alergi atau demam serbuk sari (hay fever) dan asma.Para peneliti menganalisis data dari tiga musim serbuk sari rumput di Auckland, kota terbesar di Selandia Baru, yang masing-masing mewakili fase La Nina, fase El Nino, atau fase netral, dan menemukan bahwa musim panas El Nino menghasilkan level serbuk sari yang lebih tinggi, sementara kondisi La Nina yang lebih basah menekan pelepasan serbuk sari.Penelitian yang diterbitkan pekan ini di jurnal Aerobiology yang berbasis di Swiss itu menyebutkan bahwa musim serbuk sari pada fase La Nina lebih pendek dan intensitasnya lebih rendah dibandingkan dua fase lainnya, yang menurut tim peneliti kemungkinan disebabkan oleh peningkatan curah hujan musim panas akibat kondisi La Nina yang menekan pelepasan serbuk sari rumput."Terlepas dari banyaknya spekulasi tentang bagaimana alergi serbuk sari, terutama hay fever dan asma, dipengaruhi oleh siklus El Nino Southern Oscillation (ENSO), hingga kini kita belum memiliki data yang cukup untuk memastikannya," kata Profesor Rewi Newnham dari Victoria University of Wellington, Selandia Baru.Para penulis memperingatkan bahwa temuan ini didasarkan pada kumpulan data yang terbatas dan menekankan perlunya pemantauan serbuk sari yang lebih solid di seluruh Selandia Baru, mengingat kondisi El Nino diperkirakan akan semakin sering terjadi akibat pemanasan global, yang memunculkan kekhawatiran terkait kesehatan masyarakat.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Lengkuas si bumbu Nusantara yang bisa jadi ‘obat masa depan’
Indonesia
•
02 Oct 2025

Model AI terbaru mampu tingkatkan akurasi prediksi kematian jantung mendadak
Indonesia
•
09 Jul 2025

Peneliti China kembangkan serat pintar baru yang dapat pancarkan cahaya
Indonesia
•
12 Apr 2024

Kondisi iklim purba beri petunjuk tentang perubahan pola musim hujan Asia Selatan di masa depan
Indonesia
•
19 May 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
