
NYT: Dolar yang kuat baik bagi AS, buruk bagi dunia

Foto yang diabadikan pada 19 Maret 2020 ini menunjukkan sejumlah uang kertas dolar AS di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)
Dolar AS menguat karena bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) bertekad untuk mengatasi inflasi di dalam negeri dengan menaikkan suku bunga, namun langkah ini telah mengancam memperburuk perlambatan pertumbuhan dan peningkatan inflasi bagi bank-bank sentral global.
New York City, AS (Xinhua) – Tekad bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) untuk mengatasi inflasi di dalam negeri dengan menaikkan suku bunga menimbulkan dampak mendalam di negara-negara lain, mendorong kenaikan harga, melambungkan ukuran pembayaran utang, dan meningkatkan risiko resesi yang mendalam, seperti dilansir The New York Times (NYT) pada Senin (26/9)."Kenaikan suku bunga tersebut memompa nilai dolar, mata uang utama untuk sebagian besar perdagangan dan transaksi dunia, serta menyebabkan gejolak ekonomi di negara kaya dan miskin," sebut laporan itu."Bagi seluruh dunia, ini merupakan situasi yang tidak menguntungkan," kata Eswar Prasad, seorang profesor ekonomi di Cornell sekaligus penulis beberapa buku tentang mata uang.Pada saat yang sama, ujarnya, The Fed tidak punya pilihan selain bertindak agresif untuk mengendalikan inflasi. "Setiap penundaan dalam tindakan dapat memperburuk keadaan," imbuhnya."Keputusan kebijakan yang dibuat di Washington sering bergema secara luas," kata laporan itu, mencatat bahwa Amerika Serikat merupakan negara adidaya dengan ekonomi terbesar di dunia dan cadangan minyak serta gas alam yang besar, dan "ketika menyangkut keuangan dan perdagangan global, bagaimanapun, pengaruhnya sangat besar."Ekonomi global terancam
Pada 18 September lalu, The Wall Street Journal melansir sebuah laporan, menyebutkan bahwa mata uang dolar AS menguat dan mencapai tingkat tertingginya, namun menjadi sebuah lonjakan yang mengancam memperburuk perlambatan pertumbuhan dan peningkatan inflasi bagi bank-bank sentral global."Peran dolar sebagai mata uang utama yang digunakan dalam perdagangan global dan keuangan berarti fluktuasinya memiliki dampak luas," menurut laporan itu, menggarisbawahi bahwa dampak penguatan mata uang itu sedang dirasakan pada situasi kekurangan bahan bakar dan pangan di Sri Lanka, rekor inflasi di Eropa dan defisit perdagangan yang meluas di Jepang.Pekan ini, para investor mengamati hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve dengan saksama untuk mengetahui petunjuk tentang lintasan dolar, kata laporan itu.Dalam tanda yang mengkhawatirkan, upaya dari para pembuat kebijakan di sejumlah ekonomi besar demi mempertahankan mata uang mereka "sebagian besar gagal dalam menghadapi kenaikan dolar yang tanpa henti ini," imbuh laporan itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Kementerian keuangan China jatuhkan denda kepada China Huarong dan Deloitte
Indonesia
•
22 Mar 2023

Harga minyak naik di tengah prospek permintaan China yang positif
Indonesia
•
12 Nov 2022

Pemerintah izinkan pengembangan panas bumi di kawasan konservasi
Indonesia
•
09 Sep 2020

Ladang minyak di Laut China Selatan hasilkan 20 juta ton ekuivalen minyak pada 2022
Indonesia
•
31 Dec 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Piraeus hingga Jakarta-Bandung, kisah visi Xi Jinping tentang pembangunan bersama
Indonesia
•
11 Aug 2026

Turkiye makin diminati wisatawan China, 245.000 berkunjung dalam enam bulan
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari lengan robot hingga AI, begini teknologi China yang mulai membidik Indonesia
Indonesia
•
10 Aug 2026

Jepang dihantam gelombang kebangkrutan, 1.028 perusahaan gulung tikar dalam sebulan
Indonesia
•
10 Aug 2026
