
Obat antikanker Rocbrutinib tunjukkan respons objektif 63,9 persen dalam uji klinis

Ilustrasi. (Towfiqu barbhuiya on Unsplash)
Rocbrutinib mampu menghambat mekanisme bertahan hidup sel kanker dan mengakibatkan kematian sel kanker dengan cara mengikatkan diri ke sel kanker dan mencegah protein target bernama BTK di dalam sel tersebut melalui dua jalan yang berbeda.
Guangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Rocbrutinib, obat antikanker tertarget baru, pada Kamis (4/6) mendapatkan izin edar dari Administrasi Produk Medis Nasional (National Medical Products Administration/NMPA) China. Obat revolusioner ini memberikan peluang perawatan baru bagi pasien limfoma yang mengalami resistansi terhadap obat-obatan lain.
Dikembangkan oleh perusahaan farmasi tahap klinis Lupeng Pharmaceutical yang berbasis di Guangzhou, Provinsi Guangdong, China selatan, obat oral ini mampu menghambat mekanisme bertahan hidup sel kanker dan mengakibatkan kematian sel kanker dengan cara mengikatkan diri ke sel kanker dan mencegah protein target bernama BTK di dalam sel tersebut melalui dua jalan yang berbeda.
Secara khusus, di satu sisi, obat ini dapat berikatan kuat dengan target normal secara tak dapat balik (irreversible); sementara di sisi lain, bahkan saat target telah mengalami beberapa kali mutasi yang berkaitan dengan resistansi, obat tersebut tetap mampu mengikatkan diri ke dan menghambat target tersebut, sehingga tetap efektif bagi pasien yang mengalami resistansi.
Izin itu diharapkan dapat memberikan opsi baru bagi pasien limfoma yang mengalami resistansi terhadap pengobatan sebelumnya dan hanya memiliki sedikit opsi pengobatan yang efektif.
Obat tersebut telah dimasukkan ke dalam daftar Breakthrough Therapy Designations (BTD) dari NMPA. Hasil dari uji klinis Fase II menunjukkan tingkat respons objektif sebesar 63,9 persen, tingkat respons lengkap sebesar 23 persen, dan durasi respons median 16,5 bulan.
Dengan kata lain, untuk setiap 100 pasien limfoma yang telah resistan terhadap obat-obatan lain dan hanya memiliki sedikit opsi pengobatan, sekitar 64 di antaranya mengalami penyusutan tumor signifikan, 23 di antaranya mengalami hilangnya tumor secara total berdasarkan hasil pencitraan, dan sekitar separuh di antaranya merasakan manfaat klinis yang bertahan lebih dari 16,5 bulan.
Pada 2025, sebanyak 76 obat-obatan inovatif telah mendapatkan izin di China, mencetak rekor baru dalam industri farmasi negara tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kota Shenzhen di China miliki lebih banyak ‘supercharger’ daripada SPBU
Indonesia
•
08 May 2024

Ilmuwan temukan bakteri terbesar di dunia yang bisa dilihat mata telanjang
Indonesia
•
25 Jun 2022

WWF laporkan penurunan dramatis spesies darat seluruh dunia sejak 1970
Indonesia
•
11 Sep 2020

COVID-19 – Sputnik V diklaim lebih kuat terhadap Omicron daripada Pfizer
Indonesia
•
26 May 2022


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
