
Obat berbasis tembaga terbukti kurangi protein beracun Alzheimer, tingkatkan memori spasial

Foto yang diabadikan pada 17 Maret 2020 ini menunjukkan para lansia berbelanja di supermarket Woolworths di Canberra, Australia. (Xinhua/Chu Chen)
Senyawa tembaga mampu menembus otak dan membantu membersihkan protein beracun, dapat memperbaiki pompa pembuangan limbah vital pada sawar darah-otak (blood-brain barrier), membuka jalan baru untuk mengobati disfungsi neurovaskular yang disebabkan oleh Alzheimer dan jenis demensia lainnya.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti di Australia menemukan bahwa obat yang mengantarkan tembaga ke otak dapat mengurangi secara signifikan protein beracun Alzheimer serta meningkatkan memori spasial jangka panjang dalam eksperimen laboratorium.
Studi tersebut menunjukkan bahwa Cu(ATSM), senyawa tembaga yang mampu menembus otak dan membantu membersihkan protein beracun, dapat memperbaiki pompa pembuangan limbah vital pada sawar darah-otak (blood-brain barrier), membuka jalan baru untuk mengobati disfungsi neurovaskular yang disebabkan oleh Alzheimer dan jenis demensia lainnya, yang merupakan penyebab kematian utama di Australia, menurut pernyataan dari Universitas Monash Australia yang dirilis pada Senin (15/6).
Pada penyakit Alzheimer, sistem ini, yang digerakkan oleh pompa P-glikoprotein (P-gp), mengalami gangguan, sehingga memungkinkan protein amiloid-beta beracun menumpuk di otak, menurut para peneliti.
Temuan yang dipublikasikan dalam ACS Chemical Neuroscience tersebut memberikan fondasi kuat untuk mengeksplorasi terapi biometal (biometal therapy) seperti Cu(ATSM) guna melawan disfungsi pembuluh darah dan kehilangan memori pada penyakit Alzheimer.
Penulis utama studi tersebut, Jae Pyun, dosen di Institut Ilmu Farmasi Monash (Monash Institute of Pharmaceutical Sciences/MIPS), mengatakan bahwa pengobatan tersebut berhasil melibatkan pembuluh darah otak untuk menurunkan kadar protein beracun, sehingga menghasilkan efek positif pada perilaku.
Studi tersebut menunjukkan bahwa Cu(ATSM) meningkatkan kadar P-gp sebesar 24,1 persen dalam model Alzheimer, "secara efektif menghubungkan perbaikan sawar darah-otak dengan pengurangan protein beracun serta peningkatan fungsi kognitif," kata Pyun.
"Dengan meningkatkan fungsi pompa tersebut, otak akhirnya dapat membersihkan limbah yang terperangkap. Selama 56 hari, perawatan tersebut mengurangi amiloid-beta beracun sekitar 42 persen dan meningkatkan pembelajaran spasial hampir 44 persen," imbuhnya.
Penulis senior Profesor Joseph Nicolazzo dari MIPS mengatakan bahwa Cu(ATSM), senyawa tembaga yang memiliki sifat antiinflamasi dan neuroprotektif, telah diuji dengan aman dalam uji klinis untuk penyakit Parkinson dan ALS, berpotensi mempercepat jalannya ke dalam studi pada manusia untuk penyakit Alzheimer.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti ungkap kaitan antara asupan gula dan masalah kesehatan berbahaya
Indonesia
•
17 May 2023

China tingkatkan teknologi daur ulang limbah baterai bekas
Indonesia
•
27 Jul 2023

Tes darah untuk Alzheimer dengan analisis protein 90 persen akurat
Indonesia
•
20 Apr 2025

COVID-19 – Rusia klaim vaksin intranasalnya efektif lawan semua jenis virus corona
Indonesia
•
19 Aug 2022


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
