
OPEC+ akan tingkatkan ‘output’ minyak pada November 2025

Foto yang diabadikan pada 30 November 2023 ini menunjukkan kantor pusat Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) di Wina, Austria. (Xinhua/He Canling)
OPEC tingkatkan produksi minyak sebesar 137.000 barel per hari pada November 2025.
Wina, Austria (Xinhua/Indonesia Window) – Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan para mitranya, yang dikenal sebagai OPEC+, pada Ahad (5/10) memutuskan untuk meningkatkan output minyak sebesar 137.000 barel per hari (bph) pada November, setelah melakukan kenaikan serupa pada Oktober.Keputusan tersebut diumumkan usai pertemuan virtual negara-negara anggota, termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, ungkap OPEC dalam sebuah pernyataan."Mengingat prospek ekonomi global yang stabil dan fundamental pasar yang sehat, sebagaimana tecermin dalam rendahnya persediaan minyak, delapan negara tersebut akan menerapkan peningkatan produksi sebesar 137.000 bph pada November dari pemangkasan sukarela tambahan yang telah diumumkan sebelumnya," papar OPEC.Penyesuaian produksi sukarela tambahan kelompok tersebut sebesar 1,65 juta bph pertama kali diterapkan pada April 2023 dan kemudian diperpanjang hingga akhir 2026. OPEC menjelaskan bahwa barel-barel tersebut dapat dikembalikan sebagian atau seluruhnya secara bertahap, bergantung pada kondisi pasar.Delapan negara itu akan kembali menggelar pertemuan pada 2 November mendatang untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.Sejak awal 2023, OPEC tingkat produksi minyak menjadi isu penting di pasar energi global. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak ini dan mitranya di luar kelompok, yang dikenal sebagai OPEC+, telah berupaya menyeimbangkan pasokan dan harga melalui kebijakan pemangkasan serta penyesuaian produksi sukarela.Pada April 2023, OPEC+ menerapkan pemangkasan sukarela tambahan sebesar 1,65 juta barel per hari (bph) sebagai langkah untuk menstabilkan harga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun seiring membaiknya prospek ekonomi dan menurunnya stok minyak di negara-negara konsumen utama seperti Amerika Serikat dan China, kelompok ini mulai meninjau kembali kebijakan pengurangan tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Sri Lanka resmi terbebas dari gagal bayar nasional
Indonesia
•
25 Dec 2024

Premi asuransi kapal di Selat Hormuz melonjak hingga 5 persen akibat konflik AS-Iran
Indonesia
•
11 Jul 2026

Arsitek intelektual APEC serukan ajakan untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar
Indonesia
•
04 Nov 2024

The Fed terus naikkan suku bunga, Timur Tengah diprediksi semakin menderita
Indonesia
•
23 Sep 2022


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
