
Studi baru kaitkan hilangnya es laut Arktika dengan cuaca dingin ekstrem

Foto yang diabadikan pada 24 Juli 2010 dari kapal pemecah es China 'Xue Long' ini menunjukkan seekor beruang kutub di atas bongkahan es di Laut Chukchi. (Xinhua/Zhang Jiansong)
Pemanasan Arktika bagian tengah ke atas yang diamati disebabkan oleh respons dinamis terhadap hilangnya es laut Arktika, di mana gabungan stratosfer-troposfer memainkan peran utama.
Lanzhou, China (Xinhua) – Sebuah studi gabungan baru memberikan bukti ilmiah baru tentang hubungan antara hilangnya es laut Arktika dan peristiwa cuaca dingin ekstrem di garis lintang tengah, menurut Universitas Lanzhou.Studi tersebut mengungkapkan pentingnya umpan balik stratosfer dalam pemanasan Arktika, dan diperkirakan akan mendukung prediksi iklim jangka pendek untuk cuaca dingin yang ekstrem, ujar Tian Wenshou, seorang profesor dari College of Atmospheric Sciences di Universitas Lanzhou.Dalam beberapa dasawarsa terakhir, garis lintang tengah Belahan Bumi Utara yang berpenduduk padat sering dilanda cuaca dingin ekstrem, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian ekonomi yang serius. Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan bahwa hilangnya es laut Arktika secara drastis merupakan salah satu penyebabnya, namun kaitannya masih belum jelas.Tim peneliti Tian bergabung dengan tim peneliti dari luar negeri untuk melakukan penelitian tersebut. Dengan menggunakan analisis ulang dan simulasi model, mereka menunjukkan mekanisme dinamis baru yang menjadi penyebab pemanasan yang mendalam di kutub yang berkaitan dengan hilangnya es di laut Kutub Utara, yang telah terbukti menjadi premis utama dari hubungan Kutub Utara dan garis lintang tengah.Studi itu mengonfirmasi peran penting gabungan stratosfer-troposfer dalam pemanasan Arktika yang disebabkan oleh hilangnya es di laut, yang terkonfirmasi oleh simulasi model dengan variabilitas stratosfer yang diredam.Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pemanasan Arktika bagian tengah ke atas yang diamati disebabkan oleh respons dinamis terhadap hilangnya es laut Arktika, di mana gabungan stratosfer-troposfer memainkan peran utama.Hasil studi itu telah dipublikasikan dalam jurnal npj Climate and Atmospheric Science.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

17 spesies baru ditemukan di situs warisan dunia China
Indonesia
•
19 Jul 2023

Situs Peluncuran Wahana Antariksa Wenchang luncurkan roket generasi baru
Indonesia
•
11 May 2023

Kamera cerdas dipasang di taman nasional China, abadikan aktivitas panda ‘real-time’
Indonesia
•
13 Dec 2022

Klaster makam kuno berusia hampir 3.000 tahun ditemukan di China barat laut
Indonesia
•
08 Jan 2026


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
