
Pemuda Indonesia soroti rencana pembangunan China dan prospek kerja sama bilateral

Robot humanoid bermain sepak bola di Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah, pada 24 Februari 2026. (Xinhua/Xiao Yijiu)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sidang tahunan ‘Dua Sesi’ China telah lama menjadi jendela penting bagi dunia untuk mengamati tren kebijakan dan pembangunan China. Dalam ‘Dua Sesi’ tahun ini, sebuah draf garis besar Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) dirilis, yang mengandung sejumlah informasi tentang arah pembangunan China di masa mendatang. Baru-baru ini, beberapa pemuda Indonesia yang hidup di China berbagi pandangan mereka mengenai isi dalam draf itu yang menjadi fokus mereka, serta menguraikan harapan mereka perihal prospek kerja sama Indonesia-China.
Sebagai mahasiswa jurusan kesenian di Universitas Seni Guangxi, Tandika Putri telah lama berfokus pada dinamika pembangunan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), khususnya penerapan AI dalam memberdayakan pembangunan kesenian tradisional.
Draf Rencana Lima Tahun ke-15 tersebut menyebut China akan secara menyeluruh mengadopsi pendekatan ‘AI+’ dan mendorong pemberdayaan AI ke berbagai industri. Menurut Tandika, China sangat memandang penting perkembangan teknologi AI dan pemanfaatannya, sehingga membuka peluang untuk kerja sama AI antara Indonesia dan China.
"Saya berharap suatu hari terdapat sebuah platform interaksi musik yang berbasis AI dan dibangun bersama Indonesia dan China, khususnya untuk musik rakyat dan klasik, sehingga pelestarian budaya tradisional kedua negara kita mendapat dorongan dari kemajuan teknologi," ujar Tandika, seraya menyatakan harapannya agar semakin banyak pemuda Indonesia mendapat kesempatan untuk belajar teknologi AI dari China.
Sementara itu, Alvin Candra Andrianto merupakan penggemar berbagai teknologi futuristik. "Saya pernah menjajal taksi otonomos di China dan menyaksikan berbagai teknologi yang ajaib di sini," kata Alvin.
Alvin terkesan dengan poin-poin seperti kendaraan terhubung cerdas (intelligent connected vehicle), kedirgantaraan, teknologi kuantum dan antarmuka otak-komputer yang tercantum dalam draf tersebut. "Sejumlah kerabat saya bekerja di perusahaan China dan saya sendiri merasakan manfaat kerja sama Indonesia dengan China," ujar Alvin, dan menambahkan, "Semoga nanti kita lihat lebih banyak kerja sama di bidang teknologi mutakhir."
Di sisi lain, Meli, seorang dosen asal Bandung yang kini bekerja di China, menyatakan setelah beberapa kali menaiki kereta cepat Whoosh, dia yakin kerja sama Indonesia dan China dalam pembangunan infrastruktur telah membawa manfaat nyata, baik bagi transportasi maupun pertumbuhan ekonomi regional.
"Saya melihat China menyebut akan terus mendorong konektivitas dan ikatan antarmasyarakat di bawah Sabuk dan Jalur Sutra. Saya berharap lebih banyak keahlian dan teknologi China diterapkan dalam pembangunan Indonesia," papar Meli.
Sementara bagi Gilbert Leonard Wailanduw, yang berasal dari Bali dan mengambil jurusan hukum di Universitas Guangxi, komitmen China untuk keterbukaan tingkat tinggi berarti peluang baru.
"Sebagai warga Bali, keluarga saya mengelola sebuah toko, saya berharap lebih banyak wisatawan China datang ke Indonesia," ujar Gilbert.
Tia Liesthiana telah tinggal di China selama hampir 3 tahun. Menurut Tia, teknologi dan infrastruktur digital China sangat memudahkan kehidupan sehari-hari. "Cukup pakai ponsel pintar dan berbagai aplikasi, Anda dapat menikmati beragam layanan. Dan kendaraan listrik dapat mengurangi kekurangan energi dan melindungi lingkungan," kata Tia, seraya menambahkan, "Saya melihat China bertekad berbagi momentum pembangunannya dengan negara lain, semoga lebih banyak teknologi cerdas hadir di Indonesia, dan memudahkan kehidupan rakyat."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – AS catat hampir 48.000 kasus infeksi pekanan pada anak
Indonesia
•
29 Dec 2022

COVID-19 – Beijing promosikan diagnosis dan pengobatan hierarkis infeksi
Indonesia
•
06 Jan 2023

Pariwisata bertema kebudayaan ASEAN semakin tarik banyak wisatawan China
Indonesia
•
06 Aug 2022

Usai absen panjang, Gu Ailing sabet perak ‘freeski big air’ di Olimpiade Musim Dingin 2026
Indonesia
•
17 Feb 2026


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
