Peneliti ingatkan risiko ‘sinkhole’ pada permukiman di atas lapisan batugamping

Foto tak bertanggal ini menunjukkan 'sinkhole' atau lubang runtuhan tanah yang kerap terjadi di daerah yang tersusun atas lapisan batugamping. (BRIN)
Proses pembentukan sinkhole berlangsung dalam waktu lama dan dipicu oleh air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida dari udara maupun permukaan tanah.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) — Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah kerap terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di kawasan dengan lapisan batugamping.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, mengungkapkan pada Rabu (14/1) memaparkan fenomena geologi tersebut sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
Adrin menjelaskan, sinkhole merupakan fenomena alam akibat runtuhnya lapisan batugamping di bawah permukaan tanah. Proses ini berlangsung dalam waktu lama dan dipicu oleh air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara maupun permukaan tanah.
“Air hujan meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping. Proses ini membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, aliran air permukaan dan air tanah melewati rekahan tersebut sehingga menyebabkan rongga semakin membesar. Kondisi ini melemahkan lapisan penyangga di atasnya. Ketika hujan lebat terjadi, lapisan penutup rongga menjadi semakin tipis hingga akhirnya tidak mampu menahan beban di atasnya.
“Pada saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang dikenal sebagai sinkhole,” ujarnya.
Menurut Adrin, kejadian terbentuknya sinkhole relatif sering terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah dengan bentang alam karst atau kawasan batugamping. Beberapa daerah yang dikenal rawan pembentukan sinkhole antara lain Gunung Kidul (Yogyakarta), Pacitan (Jawa Timur), dan Maros (Sulawesi Selatan). Ketiga daerah ini memiliki lapisan batugamping cukup tebal di bawah permukaan tanah.
Dia melanjutkan, salah satu tantangan utama dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculannya. Proses pembentukan rongga berlangsung perlahan dan terjadi di bawah tanah sehingga tidak mudah dikenali secara visual. Meski demikian, keberadaan rongga batugamping dapat diidentifikasi melalui survei geofisika.
“Metode seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah permukaan. Dengan cara ini, potensi sinkhole dapat diantisipasi lebih dini,” paparnya.
Terkait kualitas air yang ditemukan di dalam sinkhole, Adrin menegaskan bahwa air tersebut umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan. Oleh karena itu, kelayakannya untuk dikonsumsi tidak dapat ditentukan secara langsung.
“Air harus melalui analisis kimia, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat sesuai standar kesehatan dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” jelasnya.
Adrin juga mengingatkan bahwa kawasan permukiman yang berdiri di atas lapisan batugamping memiliki risiko lebih tinggi mengalami sinkhole. Salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.
“Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan,” katanya.
Adrin menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam mitigasi sinkhole. Salah satu metode rekayasa geoteknik yang dapat dilakukan adalah cement grouting, yakni menginjeksikan semen, mortar, atau bahan kimia tertentu untuk mengisi rongga di lapisan batugamping bawah permukaan.
Proses ini diawali dengan pemboran dari permukaan hingga kedalaman rongga, kemudian material grouting diinjeksi melalui pipa menggunakan pompa bertekanan. Tekanan dan volume injeksi dipantau secara ketat agar tidak merusak struktur batuan di sekitarnya. Setelah itu, dilakukan pengecekan efektivitas grouting melalui uji permeabilitas atau pengujian geofisika lainnya.
“Tujuannya untuk memastikan rongga telah terisi dan stabilitas lapisan batuan meningkat,” jelas Adrin.
Dia berharap masyarakat serta pemerintah daerah di kawasan rawan sinkhole dapat meningkatkan kewaspadaan dan menjadikan kajian geologi serta survei geofisika sebagai dasar perencanaan tata ruang dan upaya mitigasi risiko bencana geologi ke depan.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Bukti tertua dari kalender Suku Maya ditemukan di Guatemala
Indonesia
•
15 Apr 2022

Situs Peluncuran Wahana Antariksa Wenchang luncurkan roket generasi baru
Indonesia
•
11 May 2023

China dan anggota ASEAN bentuk aliansi inovasi iptek untuk durian
Indonesia
•
22 Jul 2024

Lorong baru ditemukan di Piramida Besar Giza Mesir
Indonesia
•
03 Mar 2023
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
