
Penembak mantan PM Jepang Shinzo Abe ajukan banding atas hukuman seumur hidup

Upacara pemakaman mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di ibu kota Tokyo pada 12 Juli 2022. (South China Morning Post/YouTube/tangkapan layar)
Pengadilan Distrik Nara pada 21 Januari 2026 menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Yamagami, yang dihukum atas tuduhan pembunuhan dan tuduhan lainnya karena menembak Abe dengan pistol rakitan pada Juli 2022 lalu ketika mantan pemimpin itu menyampaikan pidato kampanye di sebuah jalan di Nara.
Tokyo, Jepang (Xinhua/Indonesia Window) – Tim pembela Tetsuya Yamagami (45), pria yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas penembakan mematikan terhadap mantan perdana menteri (PM) Jepang Shinzo Abe, telah memutuskan untuk mengajukan banding atas putusan tersebut, seperti dilaporkan lembaga penyiaran publik Jepang, NHK, pada Selasa (3/2).
Pengadilan Distrik Nara pada 21 Januari menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Yamagami, yang dihukum atas tuduhan pembunuhan dan tuduhan lainnya karena menembak Abe dengan pistol rakitan pada Juli 2022 lalu ketika mantan pemimpin itu menyampaikan pidato kampanye di sebuah jalan di Nara.
Menjelang batas waktu pengajuan banding yang jatuh pada Rabu (4/2), tim pembela telah menyelesaikan rencananya untuk menantang putusan tersebut, lapor NHK, mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah ini.
Selama persidangannya di Pengadilan Distrik Nara, Yamagami mengaku membunuh Abe, dan mengatakan bahwa dia melakukan kejahatan tersebut karena dendam terhadap Gereja Unifikasi (Unification Church), karena keluarganya mengalami kehancuran finansial akibat sumbangan besar ibunya kepada kelompok keagamaan itu, yang diyakininya memiliki hubungan dekat dengan Abe dan politisi Jepang lainnya.
Tim pembela Yamagami meminta hukuman penjara tidak lebih dari 20 tahun, dengan alasan bahwa dia adalah korban dari dampak negatif sebuah kelompok keagamaan dan latar belakang hidupnya yang "tragis" telah memotivasinya untuk membunuh Abe. Sementara itu, Pengadilan Distrik Nara memutuskan bahwa latar belakang dan kondisi hidupnya tidak dapat dikatakan memiliki pengaruh yang menentukan terhadap kejahatan tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Topan Haikui mendarat di wilayah China timur dan selatan
Indonesia
•
06 Sep 2023

Korban tewas ledakan tambang Siberia melonjak 52 orang
Indonesia
•
26 Nov 2021

COVID-19 – Lonjakan kasus kacaukan misi diplomatik Menlu AS
Indonesia
•
19 Dec 2021

Arab Saudi pulihkan hubungan diplomatik penuh dengan Qatar
Indonesia
•
06 Jan 2021


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
