
Ilmuwan dunia perkuat kerja sama dalam pengendalian hama invasif

Seorang petani menjemur hasil panen jagung di Kota Binzhou, Provinsi Shandong, China timur, pada 29 Oktober 2023. (Xinhua/Chu Baorui)
Pengendalian berkelanjutan hama invasif seperti ulat grayak menjadi bidang kerja sama para ilmuwan pertanian dunia guna memastikan keamanan pangan global.
Beijing, China (Xinhua) – Ilmuwan pertanian China dan asing akan memperkuat kerja sama dalam pencegahan dan pengendalian berkelanjutan terhadap hama invasif seperti ulat grayak demi memastikan keamanan pangan global.Sebuah simposium global tentang pengelolaan ulat grayak berkelanjutan, yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences/CAAS) dan Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) PBB, dimulai pada Selasa (31/10) di Beijing, dengan tujuan untuk meningkatkan respons global terhadap ulat grayak dan hama invasif lainnya.Ulat grayak, hama serangga asli Amerika, telah menyebar ke lebih dari 80 negara di seluruh dunia sejak 2016. Dampak negatif hama ini terhadap hasil panen di wilayah yang baru diserang sangat besar, menurut para ahli.Pada 2019, FAO meluncurkan aksi global pengendalian ulat grayak untuk menyediakan platform koordinatif bagi banyak mitra guna memitigasi dampak hama tersebut.Wu Kongming, presiden CAAS, mengatakan ulat grayak merupakan tantangan umum yang dihadapi dunia. Pemerintah China mencapai hasil yang baik dan mengumpulkan pengalaman dalam mengekang wabah dan pencegahan hama ini.China secara aktif berpartisipasi dalam aksi global pengendalian ulat grayak yang diprakarsai oleh FAO, berbagi pengalaman dan praktiknya dalam platform pemantauan dan peringatan dini serta teknologi pencegahan dan pengendalian, dan mengeksplorasi model pengelolaan yang sesuai untuk berbagai wilayah untuk bersama-sama memastikan pembangunan pertanian global yang berkelanjutan, papar Wu.Robert Bertram, ketua panitia penyelenggara simposium tersebut, mengatakan ulat grayak secara khusus menyerang jagung, tanaman pangan yang sangat penting. Dampak negatif ulat grayak terhadap hasil panen jagung sangat besar dengan kehilangan hasil panen rata-rata sekitar 18 persen pada tahun-tahun pertama serangannya.CAAS memberikan kepemimpinan teknis dalam memantau populasi dan migrasi ulat grayak, merumuskan rekomendasi dan mengembangkan teknologi manajemen baru, imbuh Bertram.Simposium ini menarik lebih dari 200 pakar dan perwakilan dari lembaga penelitian, universitas, perusahaan, dan organisasi internasional di seluruh dunia.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Memasuki musim berkembang biak, kawanan antelop Tibet memulai migrasi tahunan
Indonesia
•
06 May 2025

Studi ungkap hubungan ketidakseimbangan tiroid jangka panjang selama kehamilan dengan risiko autisme
Indonesia
•
02 Dec 2025

Burung pelikan Dalmatian terlihat di Danau Chaohu, China timur
Indonesia
•
05 Jan 2023

Baterai ion hibrida simpan hidrogen lebih mudah dan efisien
Indonesia
•
16 May 2026


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
