
Perayaan Hari Bahasa Mandarin Internasional di Jakarta fasilitasi pertukaran budaya

Sejumlah pengunjung membuat kaligrafi Mandarin dalam Perayaan Hari Bahasa Mandarin Internasional di Landmark Pluit, Jakarta, pada 19 April 2026. (Xinhua/Abdul Azis Said)
Perayaan Hari Bahasa Mandarin Internasional menjadi jendela bagi masyarakat dunia untuk terhubung dengan bahasa Mandarin sekaligus mendalami pemahaman tentang China.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Perayaan Hari Bahasa Mandarin Internasional yang digelar di Landmark Pluit, Jakarta, pada Ahad (19/4) telah memfasilitasi masyarakat lokal untuk belajar dan memahami kebudayaan China lebih dalam melalui beragam penampilan kesenian dan aktivitas budaya.
Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar China untuk Indonesia, Wang Siping, mengatakan perayaan Hari Bahasa Mandarin Internasional menjadi jendela bagi masyarakat dunia untuk terhubung dengan bahasa Mandarin sekaligus mendalami pemahaman tentang China.
"Hari ini, kita tidak hanya menampilkan budaya tradisional China yang luar biasa, tetapi juga membangun jembatan yang melampaui batas negara dan menghubungkan hati," ujarnya saat pembukaan acara.
Sementara itu, perwakilan dari Pusat Bahasa Mandarin/Institut Konfusius Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) selaku salah satu penyelenggara berharap pertukaran budaya dalam rangka perayaan hari bahasa seperti ini dapat membangun rasa saling pengertian di antara masyarakat kedua bangsa sekaligus memperkuat kerja sama kebudayaan kedua negara.
Acara ini menyuguhkan beragam pertunjukan seni budaya, mulai dari penampilan paduan suara hingga permainan alat musik tradisional China. Para pengunjung dari beragam latar belakang, termasuk pelajar dan masyarakat umum, berkesempatan untuk menikmati berbagai pengalaman budaya secara langsung, seperti mencoba pakaian tradisional, mencicipi teh, membuat kipas lakuer, hingga berlatih kaligrafi.
Nova, seorang pekerja sekaligus ibu rumah tangga asal Jakarta, sengaja menghadiri acara tersebut bersama suami dan anaknya. Dengan menyaksikan dan mencoba secara langsung beragam kesenian dan kebudayaan China, dia berharap putranya yang kini masih berusia 10 tahun dapat belajar lebih banyak tentang tradisi kebudayaan China. Nova juga ingin anaknya mahir berbahasa Mandarin sejak dini.
"Di acara ini kami sempat belajar membuat kaligrafi dan sepertinya anak saya suka. Membuat kaligrafi membutuhkan kesabaran dan ketenangan, dua hal yang menurut saya sangat penting untuk perkembangan karakter anak," ujarnya.
Perayaan Hari Bahasa Mandarin Internasional ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara Pusat Bahasa Mandarin/Institut Konfusius UAI bersama Institut Kaligrafi dan Seni Lukis Indonesia. Perhelatan tersebut turut didukung oleh Kedutaan Besar China untuk Indonesia serta Pusat Pendidikan Bahasa dan Kerja Sama (Center for Language Education and Cooperation/CLEC) China.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

14,14 persen masyarakat China sudah melek sains
Indonesia
•
18 Apr 2024

Bom tandan terus jadi ancaman bagi warga sipil Lebanon
Indonesia
•
02 Jan 2025

UNICEF: Polusi udara jadi salah satu faktor risiko kesehatan utama bagi orang dewasa dan anak-anak
Indonesia
•
21 Jun 2024

Feature – Warga Gaza jalani Idul Fitri nan suram di tengah serangan Israel yang kembali meneror
Indonesia
•
31 Mar 2025


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
