
Studi ungkap perdagangan satwa liar global ancam kelangsungan hidup spesies dan biosekuriti

Ilustrasi. (Andrey Tikhonovskiy on Unsplash)
Perdagangan satwa liar menimbulkan ancaman serius terhadap biosekuriti, seperti impor hama dan patogen serta spesies yang dapat menjadi invasif.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi internasional baru mengungkap bahwa perdagangan satwa liar di seluruh dunia berlangsung sangat luas dan sebagian besar tidak terpantau, menjadi peringatan perihal risiko yang semakin besar terhadap keanekaragaman hayati dan biosekuriti.Studi ini, yang dilakukan bekerja sama dengan para peneliti dari Australia, Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Amerika Selatan, mengkaji jaringan perdagangan satwa liar global ke AS selama dua dekade, dengan fokus pada asal usul spesies, jumlah yang diperdagangkan, serta pola jalur perdagangannya, menurut siaran pers Universitas Melbourne pada Rabu (12/11)."Temuan kami menunjukkan bahwa tidak sekadar sejumlah besar spesies masih diambil dari habitat aslinya dan diperdagangkan, tetapi juga terdapat masalah serius terkait informasi data yang salah dan praktik pencucian uang atau perdagangan ilegal yang terang-terangan," kata Profesor Alice Hughes dari Universitas Melbourne, yang memimpin studi yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology tersebut.Meskipun volume perdagangan global sangat besar, yang diperkirakan mencakup lebih dari 70.000 spesies hewan, Hughes mengatakan data sangat sulit diperoleh dan data yang tersedia banyak mengandung ketidaksesuaian, seraya menyerukan pemantauan yang lebih kuat, berbagi data, serta kolaborasi antara pemerintah, ilmuwan, dan industri.Para peneliti menyebutkan bahwa wilayah tropis mengekspor jenis satwa liar paling beragam. Spesies langka maupun yang baru ditemukan secara ilmiah, seperti tokek gua, termasuk yang paling diminati. Mereka menambahkan bahwa banyak hewan yang diperdagangkan sudah muncul di pasar hanya dalam waktu setahun sejak pertama kali dideskripsikan secara ilmiah.Para peneliti memperingatkan bahwa perdagangan satwa liar menimbulkan ancaman serius terhadap biosekuriti, seperti impor hama dan patogen serta spesies yang dapat menjadi invasif. Mereka menyoroti penyebaran Chytrid, penyakit jamur mematikan yang telah menyebabkan punahnya sejumlah spesies katak, yang kemungkinan besar ditularkan melalui perdagangan katak Xenopus.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi ungkap krisis iklim kuno beri peringatan tentang pengasaman laut pada masa kini
Indonesia
•
25 Dec 2024

Laporan IBM sebut AI picu kebocoran data perusahaan yang mahal
Indonesia
•
01 Aug 2025

Detektor plasma, alat pemantau di stasiun luar angkasa China
Indonesia
•
26 Aug 2022

China capai terobosan dalam produksi listrik tenaga panas laut
Indonesia
•
14 Sep 2023


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
