
Tim ilmuwan petakan spektrum energi proton di ruang angkasa Mars

Foto yang dirilis pada 1 Januari 2022 oleh Administrasi Luar Angkasa Nasional China (China National Space Administration/CNSA) ini menunjukkan foto wahana pengorbit (orbiter) dan Mars. (Xinhua/CNSA)
Peristiwa partikel energetik matahari (solar energetic particle/SEP), yang dipicu oleh ledakan matahari, merupakan salah satu fenomena cuaca antariksa yang paling berbahaya. Peristiwa ini dapat meningkatkan fluks partikel berenergi tinggi secara tiba-tiba, sehingga menimbulkan risiko bagi pesawat ruang angkasa dan astronaut.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim ilmuwan berhasil membangun spektrum energi lengkap pertama dari proton berenergi tinggi matahari yang didapat saat peristiwa ledakan matahari di ruang angkasa Mars, yang memberikan pemahaman baru mengenai lingkungan radiasi di sekitar Planet Merah itu.Studi tersebut, yang diterbitkan baru-baru ini di dalam jurnal Geophysical Research Letters, dilakukan bersama oleh peneliti dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China (University of Science and Technology of China/USTC), Institut Fisika Modern Akademi Ilmu Pengetahuan China, Institut Fisika Lanzhou, serta Universitas Kiel Jerman.Peristiwa partikel energetik matahari (solar energetic particle/SEP), yang dipicu oleh ledakan matahari, merupakan salah satu fenomena cuaca antariksa yang paling berbahaya. Peristiwa ini dapat meningkatkan fluks partikel berenergi tinggi secara tiba-tiba, sehingga menimbulkan risiko bagi pesawat ruang angkasa dan astronaut.Tidak seperti Bumi, Mars tidak memiliki medan magnet pelindung dan memiliki atmosfer yang sangat tipis, sehingga permukaannya sangat rentan terhadap partikel berenergi tinggi dan partikel sekunder. Memahami dampak peristiwa SEP di Mars sangat penting bagi upaya perlindungan radiasi dalam misi eksplorasi Mars di masa depan.Tim peneliti menggunakan data dari beberapa detektor untuk menyusun spektrum peristiwa SEP. Spektrum proton berenergi rendah dan menengah disediakan oleh wahana pengorbit (orbiter) Tianwen-1 milik China dan wahana antariksa Mars Atmosphere and Volatile Evolution (MAVEN) milik NASA, sedangkan fluks proton berenergi tinggi diperoleh dari penggabungan hasil pengamatan wahana penjelajah (rover) Curiosity milik NASA di Mars dengan simulasi pengangkutan partikel di atmosfer Mars.Dengan menganalisis dan mencocokkan data-data tersebut, para peneliti memetakan spektrum energi proton untuk peristiwa SEP, yang mencakup kisaran dari 1 hingga 1.000 MeV.Studi ini berfungsi sebagai referensi berharga bagi penelitian di masa depan tentang fenomena cuaca antariksa yang serupa, kata Guo Jingnan, seorang profesor di USTC. Dia menambahkan bahwa studi tersebut juga menggarisbawahi pentingnya pemantauan terkoordinasi terhadap radiasi yang sedang berlangsung di Mars.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti uraikan alasan makhluk hidup hanya warisi mitokondria induk betina
Indonesia
•
18 Jul 2024

Belanda jadi negara Eropa pertama yang setujui sistem pengemudian otonomos Tesla
Indonesia
•
12 Apr 2026

Pakar ungkap kenaikan suhu di malam hari dapat tingkatkan risiko kematian
Indonesia
•
12 Aug 2022

COVID-19 – 30.000 relawan ikut uji pasca-registrasi vaksin Vector Rusia
Indonesia
•
07 Oct 2020


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
