
Studi baru ungkap dinamika ‘permafrost’ dan dampak iklim di padang rumput alpin

Kawanan antelop Tibet ini difoto oleh Kelsang Lhundrup saat dirinya berpatroli di Cagar Alam Nasional Changtang di Daerah Otonom Xizang, China barat daya, pada 12 Agustus 2023. (Xinhua/Kelsang Lhundrup)
Permafrost di bawah padang rumput alpin merupakan yang paling sensitif terhadap perubahan iklim, yang menunjukkan intensitas fluktuasi periodik yang berbeda dibandingkan tiga jenis padang rumput lainnya.
Lanzhou, China (Xinhua) – Tim peneliti China telah mencapai kemajuan dalam mengungkap dinamika permafrost, atau ibun abadi, serta dampak iklim di padang rumput alpin di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang, demikian menurut Northwest Institute of Eco-Environment and Resources (NIEER) dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Studi yang dipimpin oleh peneliti NIEER Wu Qingbai ini memberikan perspektif baru untuk memahami mekanisme respons dari berbagai jenis ekosistem padang rumput alpin.Permafrost dan padang rumput alpin berinteraksi dan berevolusi bersama. Suhu permafrost berfungsi sebagai indikator penting untuk memahami interaksi dan perubahan tersebut. Para peneliti mengkaji permafrost di bawah padang rumput alpin, stepa alpin, padang rumput gurun alpin, serta lahan tandus untuk mengungkap hubungannya dengan perubahan iklim. Para peneliti juga mengidentifikasi faktor-faktor iklim yang memengaruhi perubahannya melalui analisis domain waktu-frekuensi.Dalam domain waktu-frekuensi, faktor iklim yang berbeda memengaruhi suhu permafrost di berbagai kedalaman. Dalam domain waktu, suhu udara memiliki dampak terbesar terhadap suhu permafrost di hampir setiap kedalaman, ungkap hasil studi ini.Hasil studi ini makin menegaskan efek perlindungan vegetasi terhadap lapisan permafrost subpermukaan, yang menunjukkan bahwa tutupan vegetasi dapat secara efektif memperlambat degradasi permafrost.Di antara keempat jenis lahan yang diteliti di atas, permafrost di bawah padang rumput alpin merupakan yang paling sensitif terhadap perubahan iklim, yang menunjukkan intensitas fluktuasi periodik yang berbeda dibandingkan tiga jenis padang rumput lainnya, ungkap studi ini.Hasil studi ini telah dipublikasikan di jurnal CATENA.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Reruntuhan delapan situs kota kuno ditemukan di Kawasan Baru Xiong'an China
Indonesia
•
02 Apr 2024

Rusia kembangkan sistem senjata strategis hipersonik baru
Indonesia
•
22 Dec 2021

‘Drone’ bantu proses konstruksi proyek PV di China barat daya
Indonesia
•
19 Apr 2023

Satelit China yang sedang mengorbit lakukan pengujian model besar AI
Indonesia
•
08 Oct 2024


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
