
Davos serukan kolaborasi untuk atasi tantangan global di era cerdas

Orang-orang menghadiri Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, pada 20 Januari 2025. Pertemuan Tahunan WEF 2025 resmi dibuka pada Senin (20/1) di Davos, Swiss. Forum tersebut menyerukan kerja sama internasional di tengah ketidakpastian global. (Xinhua/Lian Yi)
Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2025 dimulai di Davos, Swiss, dengan mengusung tema ‘Kolaborasi untuk Era Cerdas’ (Collaboration for the Intelligent Age).
Davos, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2025 dimulai di Davos, Swiss, pada Senin (20/1) dengan mengusung tema ‘Kolaborasi untuk Era Cerdas’ (Collaboration for the Intelligent Age).Hampir 3.000 pemimpin dari seluruh dunia berkumpul di pertemuan tersebut untuk membahas tantangan-tantangan mendesak dan mengeksplorasi peluang, seperti yang dihadirkan oleh AI."Jadi, AI sudah mengubah pertumbuhan global. Kita sudah melihatnya mengubah perdagangan. Kita melihat pertumbuhannya ada pada perdagangan dan layanan digital. Jika Anda mengaplikasikan AI dengan cara yang baik, produktivitas dapat meningkat 10 persen pada dekade mendatang. Itu berarti kemakmuran yang berlimpah bagi mereka yang mampu menerapkannya dengan cara strategis," urai Presiden Forum Ekonomi Dunia, Borge Brende.Pertemuan tahun ini difokuskan pada lima bidang utama, yakni menata kembali pertumbuhan, industri di era cerdas, berinvestasi pada sumber daya manusia, menjaga planet, serta membangun kembali kepercayaan.Mengingat tantangan-tantangan bersama, Presiden WEF Borge Brende mengajak masyarakat internasional untuk bekerja sama dan mencari solusi."Menurut saya, penting bagi kita untuk bekerja sama dan berdialog. Saya setuju dengan gagasan ini bahwa kita semua berada di perahu yang sama. Masalah global, Anda harus menemukan solusi global. Jadi, menurut saya, bahkan di dunia yang penuh persaingan, kita perlu bekerja sama, duduk di meja yang sama, berdiskusi, berdialog, dan menemukan solusi."Brende juga menyoroti peran aktif China dalam membina kerja sama dan mendukung pertumbuhan."Kita tahu bahwa China, sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, serta juga memiliki banyak sumber daya, berkolaborasi sangat erat dengan perekonomian emerging lainnya, maupun dengan negara-negara berkembang (lainnya). Dan pengembangan kapasitas sangat penting di sana. Kita tahu bahwa China juga merupakan investor utama di banyak negara berkembang (lainnya), dan juga di perekonomian emerging lainnya. Dan saya yakin hal itu juga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan," terangnya.Sementara itu, Ekonom senior dari Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), Liang Guoyong, mengatakan, "Otomatisasi berbasis AI akan berdampak besar terhadap bidang transportasi, manufaktur industri, dan jasa. Dengan demikian, AI siap menjadi kekuatan teknologi yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang, memengaruhi dan mendorong pertumbuhan ekonomi global serta membentuk kembali lanskap ekonomi."Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi: Perusahaan China bertanggung jawab atas penangkapan ikan ilegal global
Indonesia
•
27 Oct 2022

Pinjaman yuan baru China meningkat pada 2022
Indonesia
•
11 Jan 2023

Studi: Karhutla dahsyat meningkat, hampir separuh bencana terburuk terjadi dalam 10 tahun terakhir
Indonesia
•
04 Oct 2025

Resmi masuki pasar Indonesia, Geely perkenalkan SUV listrik EX5
Indonesia
•
23 Jan 2025


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
