
Jet buatan China ciptakan kemakmuran di daerah pegunungan

Foto yang diabadikan pada 9 Desember 2022 ini menunjukkan pesawat penumpang berukuran besar C919 pertama di Bandar Udara Internasional Hongqiao Shanghai di Shanghai, China timur. (Xinhua/Ding Ting)
Perusahaan pengembang C919, Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd., memilih Gunung Liupanshan sebagai pangkalan pelatihan pilot karena tempat itu memiliki kondisi cuaca yang menantang dan membuat aktivitas penerbangan lebih sulit, seperti kabut, angin kencang, dan salju yang lebat.
Yinchuan, China (Xinhua) – Ma Zhijun tidak akan pernah melupakan hari ketika dia menyaksikan C919, pesawat jet berukuran besar pertama yang dikembangkan secara mandiri oleh China, mendarat di kota asalnya, Guyuan di Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut.Ma, seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun yang tinggal di sebuah desa pegunungan, bercita-cita menjadi pilot. Pada Desember tahun lalu, dia dan teman-teman sekelasnya berkunjung ke Bandara Liupanshan, yang terletak di Guyuan, untuk menyaksikan pesawat C919 pertama yang dikirim ke China Eastern Airlines menjalani uji terbang yang sukses dari Shanghai ke Ningxia.Menurut Komisi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Shanghai, China Eastern Airlines diperkirakan akan memulai pengoperasian komersial untuk pesawat tersebut pada musim semi 2023. Per akhir 2022, tipe C919 telah mendapatkan 1.035 pesanan dari 32 pelanggan."Sungguh menakjubkan melihat pesawat penumpang berukuran besar buatan negara saya datang ke kampung halaman saya," kata Ma, yang orang tuanya melukis pesawat besar di dinding rumah mereka.Memiliki jangkauan penerbangan maksimum lebih dari 5.000 kilometer, C919 tidak hanya membuat Ma dan rekan-rekannya antusias selama beberapa hari, tetapi juga membangkitkan ‘demam’ penerbangan di kawasan Gunung Liupanshan, yang dahulu merupakan basis revolusioner Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) dan pernah menjadi daerah yang sangat miskin di Ningxia.Di wilayah Xiji, sekitar 60 kilometer di sebelah barat Guyuan, sebuah museum penerbangan menerima ratusan pengunjung setiap harinya. Museum tersebut menampilkan sejarah penelitian dan pengembangan C919, serta menawarkan akses ke fasilitas simulator bagi khalayak umum."Putri saya yang berusia 14 tahun sudah mengunjungi museum ini sebanyak tiga kali, menjajal simulasi penerbangan, dan mempelajari hal baru pada setiap kunjungannya," kata Liu Defei, seorang pegawai pemerintah setempat.Di sekolah menengah putrinya, sebuah laboratorium penerbangan juga telah didirikan sehingga para siswa dapat mempelajari lebih jauh tentang pesawat dan penerbangan.Selain itu, perusahaan pengembang C919, Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd., memilih Gunung Liupanshan sebagai pangkalan pelatihan pilot karena tempat itu memiliki kondisi cuaca yang menantang dan membuat aktivitas penerbangan lebih sulit, seperti kabut, angin kencang, dan salju yang lebat.Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan itu telah menempatkan sebuah tim di wilayah Xiji untuk membantu pemerintah daerah dalam upaya revitalisasi pedesaan serta pengentasan kemiskinan.Berbagai produk yang dibuat oleh kaum perempuan di wilayah Xiji, seperti sulaman, sepatu dan bantal bordir, kreasi gunting kertas, dan obat tradisional China, didanai dan dipromosikan oleh perusahaan penerbangan tersebut, sehingga meningkatkan pendapatan penduduk desa."Kami mempromosikan produk-produk ini karena dibuat oleh penduduk setempat dengan sepenuh hati. Itu lebih berharga," kata Li Lin, seorang pejabat perusahaan yang pernah bekerja di Xiji.Berkat upaya pengentasan kemiskinan China, Xiji berhasil terbebas dari kemiskinan pada 2020.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Saudi pulangkan 250 warganya dari Jakarta
Indonesia
•
11 Apr 2020

Wapres dorong zakat sebagai solusi pengentasan kemiskinan
Indonesia
•
31 Jul 2024

Aktivis: Kunjungan Menlu AS ke Indonesia sesuai strategi RAND Corporation
Indonesia
•
31 Oct 2020

COVID-19 – Inisiasi global COVAX distribusikan 28,3 juta dosis vaksin untuk 46 negara
Indonesia
•
18 Mar 2021


Berita Terbaru

Indonesia masuk zona merah kabut asap 2026, Agustus-September jadi periode paling berbahaya
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Herdman dan peta jalan baru timnas Indonesia: Mimpi ke Piala Dunia 2030 dimulai
Indonesia
•
21 Jun 2026

Feature – Mengapa orang Indonesia tetap demam Piala Dunia meski timnas tak bermain? Ini jawaban psikolog
Indonesia
•
21 Jun 2026

Jamu bakal punya pusat pengobatan modern, Indonesia gandeng China untuk mewujudkannya
Indonesia
•
20 Jun 2026
