
Pesawat rekayasa cuaca MA-60 buatan China hadirkan varian baru

Varian konfigurasi A dari pesawat rekayasa cuaca MA-60 terlihat saat uji coba penerbangan di Kota Suining, Provinsi Sichuan, China barat daya, pada 29 April 2024. (Xinhua/AVIC)
Pesawat rekayasa cuaca MA-60 mengintegrasikan fungsi deteksi meteorologis dan peningkatan hujan buatan, serta dapat melaksanakan berbagai operasi rekayasa cuaca dalam berbagai kondisi.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah varian baru dari pesawat rekayasa cuaca MA-60 buatan China telah dikembangkan untuk melayani misi-misi meteorologis secara lebih baik, ungkap Aviation Industry Corporation of China (AVIC).Varian konfigurasi A dari pesawat rekayasa cuaca MA-60 belum lama ini telah merampungkan uji terbang kelaikan udaranya, kata AVIC, produsen pesawat terbang terkemuka di China.Peralatan pendeteksi atmosfer yang dikembangkan oleh China telah ditambahkan ke varian pesawat baru ini sesuai dengan persyaratan Administrasi Meteorologi China, ungkap AVIC.Untuk memverifikasi performa, uji terbang pengembangan dan uji terbang kelaikan udara dimulai pada akhir April lalu di sebuah bandara di Kota Suining, Provinsi Sichuan, China barat daya.Varian baru pesawat MA-60 itu telah melakukan delapan kali penerbangan untuk memeriksa berbagai fungsinya, seperti kemampuan kontrol, stabilitas, sistem peringatan gagal angkat (stall warning system), dan komunikasi udara-darat, serta penyebaran strip api, nitrogen cair, dan bubuk untuk penggunaan deteksi atmosferis, papar AVIC.Pesawat rekayasa cuaca MA-60 merupakan bagian dari keluarga pesawat multiguna MA-60 ‘Modern Ark’ buatan dalam negeri China, yang dikembangkan oleh AVIC XAC Commercial Aircraft Co., Ltd. di Xi'an, Provinsi Shaanxi, China barat laut.Pesawat khusus bersayap tetap dan berukuran sedang ini memiliki sejumlah kemampuan, seperti dapat mengangkut muatan berat, berdaya tahan lama, dan bersifat multifungsi dalam operasi rekayasa cuaca, serta secara efektif dapat meringankan kekeringan saat musim semi dan mendukung kegiatan membajak lahan.Pesawat ini mengintegrasikan fungsi deteksi meteorologis dan peningkatan hujan buatan, serta dapat melaksanakan berbagai operasi rekayasa cuaca dalam berbagai kondisi, sebut AVIC.Pesawat ini memainkan peran penting dalam pemantauan lingkungan atmosferis, analisis data atmosferis, dan studi ilmu meteorologi. Pesawat ini mampu melayani berbagai misi, seperti peningkatan hujan, bantuan kekeringan, dan konservasi air, serta pemadaman kebakaran hutan dan padang rumput.Pesawat ini telah menjadi bagian penting dalam upaya rekayasa cuaca di China. Sejauh tahun ini, pesawat tersebut telah beberapa kali melakukan upaya peningkatan curah hujan buatan di Provinsi Shaanxi guna mengatasi kekeringan dan berbagai tantangan meteorologis lainnya di daerah itu.Selain itu, pesawat tersebut juga terlibat dalam pemadaman kebakaran hutan dan misi lainnya tahun ini. Pada pertengahan Maret 2024, pesawat itu langsung dikerahkan dalam misi penyelamatan darurat setelah kebakaran hutan dahsyat melanda daerah bergunung-gunung di wilayah Yajiang di Provinsi Sichuan.Pada misi ini, pesawat rekayasa cuaca MA-60 bersama dengan pesawat buatan dalam negeri China lainnya, memainkan peran krusial dalam berbagai tugas, mulai dari pemantauan bencana melalui udara hingga pemulihan telekomunikasi dan peningkatan curah hujan buatan, urai AVIC.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

NASA dan SpaceX luncurkan misi rotasi kru baru ke ISS
Indonesia
•
03 Aug 2025

Peneliti kembangkan ‘kembaran digital’ AI pasien untuk prediksi kesehatan mereka di masa mendatang
Indonesia
•
18 Nov 2025

Seni gua tertua di dunia ditemukan di Sulawesi
Indonesia
•
22 Jan 2026

Pembangkit listrik tenaga termal surya hasilkan listrik dengan 'mengejar' sinar matahari
Indonesia
•
22 Jul 2024


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
