
Politisi Jerman kritik Parlemen Eropa karena tetap operasikan dua kompleksnya saat krisis energi

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen (tengah) menyampaikan pidato saat sesi pleno Parlemen Eropa di Brussel, Belgia, pada 20 Januari 2021. (Xinhua/Uni Eropa)
Krisis energi Eropa mendorong Uni Eropa untuk memutuskan bahwa perusahaan-perusahaan energi yang mendapat keuntungan harus menyetorkan sebagian dari keuntungan surplus mereka di masa depan, guna membatasi kenaikan harga listrik.
Jakarta (Indonesia Window) – Sejumlah anggota Parlemen Eropa (European Parliament/EP) asal Jerman pada Selasa (4/10) mengkritik institusi mereka karena tetap beroperasi di dua lokasi, yakni di Brussel, Belgia, dan di Strasbourg, Prancis, di tengah melonjaknya harga energi."Sampai musim semi, kita seharusnya hanya mengadakan pertemuan di Brussel," kata Peter Liese, anggota kelompok Partai Rakyat Eropa (European People's Party/EPP) di Parlemen Eropa, kepada surat kabar Bild. Dia juga menyampaikan keresahannya dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola."Menyalakan pemanas dan penerangan di dua kompleks bangunan secara bersamaan di Brussel dan Strasbourg merupakan ejekan bagi para pembayar pajak," kata Moritz Koerner dari kelompok liberal Renew Europe, seraya mengatakan bahwa kantor Strasbourg harus melakukan "hibernasi energi sesegera mungkin."Meskipun Strasbourg adalah basis resmi Parlemen Eropa, komite dan kelompok politiknya biasanya mengadakan pertemuan di Brussel. Setiap tahun, hanya ada 12 sesi pleno, yang masing-masing berlangsung selama empat hari, yang digelar di Strasbourg.Komisi Eropa saat ini sedang membahas persyaratan yang mengikat bagi negara-negara anggota untuk menghemat energi. "Kelangkaan energi global telah terjadi. Jadi, apa pun yang kita lakukan, satu hal yang pasti adalah kita harus menghemat listrik," kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen bulan lalu.Akibat krisis energi di Eropa, UE baru saja memutuskan bahwa perusahaan-perusahaan energi yang mendapat keuntungan harus menyetorkan sebagian dari keuntungan surplus mereka di masa depan. Hal ini dimaksudkan untuk membatasi kenaikan harga listrik. "Kami menyepakati sejumlah instrumen yang baik dan efektif guna mengendalikan kenaikan harga listrik," kata Menteri Perekonomian Jerman Robert Habeck pekan lalu."Semoga saja krisis yang terjadi saat ini akan membuat kita berpikir ulang," kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Pembayar Pajak Eropa Michael Jaeger kepada Bild. Perjalanan antara Brussel dan Strasbourg bagaikan "sirkus keliling" dan merupakan "bencana ekologis dan ekonomi."Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Uang beredar Desember 2021 meningkat jadi 7.867,1 triliun rupiah
Indonesia
•
24 Jan 2022

Feature – Seberapa mudahkah impor barang ke Indonesia?
Indonesia
•
06 Feb 2024

Data sebut perusahaan AS kurangi lebih banyak pekerja
Indonesia
•
20 Jun 2025

Kemendag dorong UMKM tembus pasar global melalui Export Center Batam
Indonesia
•
19 Aug 2025


Berita Terbaru

Area hutan dunia terus menyusut, target hutan global masih jauh dari memadai
Indonesia
•
12 May 2026
Nafta langka, produsen makanan ringan terkemuka Jepang gunakan kemasan hitam-putih
Indonesia
•
12 May 2026

China bisa jadi penopang prospek ekonomi Indonesia di tengah risiko perlambatan
Indonesia
•
11 May 2026

Bank Sentral Malaysia dan Indonesia teken MoU untuk perdalam kerja sama
Indonesia
•
11 May 2026
