Provinsi Hainan di China tingkatkan upaya perlindungan owa langka yang terancam punah

Foto tanpa keterangan tanggal yang diabadikan oleh Li Wenyong ini menunjukkan seekor owa Hainan dan bayinya di Taman Nasional Hutan Hujan Tropis Hainan di Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua/Departemen Kehutanan Provinsi Hainan)
Populasi owa Hainan mencapai lebih dari 2.000 ekor pada tahun 1950-an, namun, jumlah satwa tersebut semakin menurun drastis pada 1980-an akibat perburuan dan penebangan hutan yang berlebihan, sehingga jumlahnya hanya tinggal tujuh ekor.
Haikou, China (Xinhua) – Provinsi Hainan di China mengadopsi berbagai metode untuk melindungi salah satu primata paling langka di dunia, yaitu owa Hainan.Upaya-upaya tersebut antara lain dengan melakukan restorasi habitat melalui penghijauan, melakukan pemantauan secara berkala, meningkatkan kerja sama ilmiah, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan konservasi.Owa Hainan hanya dapat ditemukan di hutan hujan di Provinsi Hainan, China selatan, dan telah terdaftar sebagai spesies yang terancam punah oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (International Union for Conservation of Nature).Pada tahun 1950-an, populasi owa Hainan mencapai lebih dari 2.000 ekor.Namun, jumlah satwa tersebut semakin menurun drastis pada 1980-an akibat perburuan dan penebangan hutan yang berlebihan, sehingga jumlahnya hanya tinggal tujuh ekor.Penurunan yang mengkhawatirkan ini mendorong primata tersebut ke ambang kepunahan.Selama lebih dari 40 tahun, Hainan meningkatkan upaya-upaya perlindungan guna melindungi spesies langka tersebut."Kami telah merestorasi lebih dari 4.000 mu (sekitar 266,7 hektare) habitat mereka sejak 2003. Kami menanam pohon seperti beringin guna menyediakan makanan bagi owa. Kami juga membangun beberapa koridor ekologis guna memperluas habitat owa dengan menghubungkan daerah-daerah yang terfragmentasi," tutur Wakil Kapten Tim Pemantau Owa Hainan, Zhou Zhaoli."Untuk mengumpulkan data yang lebih akurat tentang owa Hainan, seperti populasi dan kawasan hidup mereka, kami melakukan pemantauan rutin setidaknya 10 hari per bulan. Dengan demikian, kami dapat memberikan lebih banyak bahan penelitian langsung kepada lembaga penelitian dan konservasi," lanjutnya."Pada akhir 1970-an, hanya ada 7 sampai 9 ekor owa Hainan di provinsi pulau itu. Saat ini, populasi owa telah meningkat menjadi 37 ekor dan terdiri dari enam keluarga," kata Zhou.Selain merestorasi habitat, melakukan pemantauan rutin, dan meningkatkan kerja sama ilmiah, Hainan juga melakukan upaya yang besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi owa Hainan, terutama di desa-desa yang dekat dengan habitat owa tersebut."Di gunung yang ada di belakang kami, Anda bisa mendengar suara owa. Ketika Anda berjalan mendaki gunung, Anda dapat mengamati kawanan owa dari dekat. Kami sering pergi ke desa-desa di dekat sini dan mengunjungi rumah-rumah penduduk untuk mempromosikan pengetahuan tentang perlindungan owa kepada masyarakat setempat," jelas Pejabat Partai di Qingsong, Provinsi Hainan, Zeng Shengquan.Berkat upaya-upaya tersebut, populasi owa Hainan meningkat. Angka resmi terbaru menunjukkan bahwa populasi owa tersebut bertambah menjadi 37 ekor, yang terdiri dari enam keluarga di provinsi pulau tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Satelit astronomi Einstein Probe milik China singkap fakta baru alam semesta
Indonesia
•
03 Nov 2024

Pengembangan jaringan 5G China tumbuh stabil
Indonesia
•
25 May 2023

Roket pengangkut seri Long March China lakukan peluncuran sukses ke-150
Indonesia
•
31 Jul 2023

Wuling umumkan akan produksi baterai canggih secara lokal di Indonesia
Indonesia
•
22 Sep 2024
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
