
Lembaga ilmu pengetahuan terkemuka China luncurkan program internasional tentang sel sintetis

Ni Jun, seorang peneliti di Fakultas Ilmu Hayati dan Bioteknologi Universitas Jiao Tong Shanghai, mengamati botol-botol berisi sel ganggang biru-hijau yang dimodifikasi dengan penyuntingan gen di laboratoriumnya di Shanghai, China timur, pada 12 Januari 2024. (Xinhua/Dong Xue)
Program internasional tentang sel sintetis di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China selatan, bertujuan untuk mempromosikan penelitian terdepan dalam ilmu hayati dan inovasi bioteknologi pada skala global.
Shenzhen, China (Xinhua/Indonesia Window) – Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) pada Senin (28/10) mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan sebuah program internasional tentang sel sintetis di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China selatan, untuk mempromosikan penelitian terdepan dalam ilmu hayati dan inovasi bioteknologi pada skala global.Dengan memanfaatkan kemampuan ilmiah dari Institut Teknologi Lanjutan Shenzhen (Shenzhen Institute of Advanced Technology) di bawah naungan CAS, program ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang inovatif di bidang biologi sintetis. Selain itu, inisiatif ini juga bertujuan untuk mengumpulkan keahlian dari seluruh dunia dan membangun paradigma kerja sama guna mengatasi tantangan-tantangan umum yang dihadapi oleh umat manusia, menurut CAS, lembaga tertinggi di China dalam hal ilmu pengetahuan alam.Biologi sintetis merupakan ilmu tentang membangun sistem yang meniru struktur dan fungsi sel hidup dari nol. Para peneliti menggabungkan alat dari ilmu kimia, ilmu material, dan biokimia untuk mengembangkan elemen-elemen penyusun yang fungsional dan struktural guna membangun sistem sintetis yang menyerupai sel.Dalam beberapa tahun terakhir, CAS telah berkomitmen untuk melakukan kolaborasi internasional di bidang sel sintetis.Pada Oktober 2023, Institut Teknologi Lanjutan Shenzhen, bersama dengan sejumlah universitas dan lembaga penelitian dari China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, dan Thailand, membentuk aliansi Asia untuk sel sintetis. Nota kerja sama (memorandum of cooperation) telah ditandatangani pada April lalu untuk meletakkan dasar bagi hubungan kolaboratif internasional yang lebih luas.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Populasi panda liar di China meningkat jadi hampir 1.900 ekor
Indonesia
•
25 Jan 2024

Organisasi Penelitian Nuklir Eropa gelar berbagai acara sains yang mudah diakses
Indonesia
•
16 Jan 2024

Media: Gelombang panas ekstrem melanda sebagian besar AS
Indonesia
•
13 Jul 2024

Singapura luncurkan studi terbesar tentang alergi makanan pada anak
Indonesia
•
30 Jun 2025


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
