
Singapura luncurkan studi terbesar tentang alergi makanan pada anak

Ilustrasi. (Sherwin Ker on Unsplash)
Kasus alergi makanan pada anak melibatkan bahan makanan telur, susu, dan kacang tanah sebagai alergen yang umum terjadi pada anak-anak yang lebih muda, dan kerang-kerangan pada remaja dan dewasa muda.
Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Sekelompok klinisi dan peneliti Singapura dari berbagai institusi medis terkemuka meluncurkan sebuah studi gabungan tentang alergi makanan pada anak-anak setempat, sebagai respons atas meningkatnya jumlah kasus klinis. Demikian menurut pernyataan bersama yang dirilis pada Kamis (26/6).Proyek itu, yang mencakup perekrutan dan analisis data yang berlangsung selama dua tahun, akan menjadi studi pertama dan terbesar yang memberikan gambaran menyeluruh tentang beban alergi makanan di Singapura.Fase pertama, yang dimulai pada Februari 2025, melibatkan survei terhadap setidaknya 2.000 orang tua dan pengasuh anak berusia 12 hingga 24 bulan. Para peserta akan mengisi kuesioner, dan mereka yang melaporkan adanya potensi reaksi alergi akan dirujuk ke Rumah Sakit Universitas Nasional (National University Hospital/NUH) atau Rumah Sakit Wanita dan Anak KK (KK Women's and Children's Hospital/KKH) untuk evaluasi lebih lanjut.Fase kedua, dimulai pada Juli 2025, akan meneliti sekitar 400 anak berusia 0 hingga 18 tahun yang telah didiagnosis memiliki alergi terhadap susu, telur, kacang tanah, atau kerang-kerangan selama setidaknya enam bulan.Baik NUH maupun KKH telah melaporkan peningkatan yang stabil dalam kasus alergi makanan pada anak, dengan telur, susu, dan kacang tanah sebagai alergen yang umum terjadi pada anak-anak yang lebih muda, dan kerang-kerangan pada remaja dan dewasa muda.Chong Kok Wee, salah satu peneliti dari KKH, mengatakan bahwa rumah sakit tersebut telah mengamati tren peningkatan yang mengkhawatirkan terkait kasus alergi makanan dalam beberapa tahun terakhir, yang menggarisbawahi urgensi penelitian ini.Elizabeth Tham, peneliti utama, mengatakan bahwa penelitian tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan, khususnya di kalangan anak-anak yang lebih tua serta remaja.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan temukan planet ekstrasurya kecil yang panas sepadat besi
Indonesia
•
03 Dec 2021

Muatan ilmiah dari satelit ‘reusable’ dan ‘returnable’ pertama China dikirim ke pengguna
Indonesia
•
25 Oct 2024

China capai kemajuan baru dalam pembangunan Sumber Foton Energi Tinggi
Indonesia
•
20 Aug 2024

IoT berbasis ‘drone’ bantu pantau ekosistem Dataran Tinggi Qinghai-Tibet
Indonesia
•
01 Feb 2023


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
