
Protein tau pertahankan ingatan jangka panjang, tawarkan pengobatan demensia

Ilustrasi. (Robina Weermeijer on Unsplash)
Protein tau berperan penting dalam mengatur dan menstabilkan memori agar dapat bertahan dalam jangka waktu lama.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Ilmuwan di Australia mengidentifikasi peran kunci protein tau yang terkait dengan Alzheimer dalam membentuk ingatan jangka panjang, menawarkan petunjuk baru untuk pengobatan demensia di masa depan.
Penelitian yang telah dipublikasikan di dalam jurnal Nature Communications tersebut menemukan bahwa tau berperan penting dalam mengatur dan menstabilkan memori agar dapat bertahan dalam jangka waktu lama, meskipun protein tersebut tidak diperlukan untuk pembelajaran awal maupun ingatan jangka pendek, ungkap pernyataan dari Universitas Flinders (Flinders University) yang dirilis pada Senin (25/5).
Tanpa protein tau, memori tetap dapat terbentuk, namun menjadi lebih lemah dan tidak bertahan lama, kata Arne Ittner dari Universitas Flinders, penulis senior dalam penelitian tersebut sekaligus seorang ahli saraf.
Dengan menggunakan model tikus, para peneliti menunjukkan bahwa protein tau membantu mengatur ‘sel engram’, yakni neuron khusus yang membentuk jejak fisik memori, selama periode penting pengodean, sehingga membantu menentukan sel mana yang dipilih untuk menyimpan suatu memori.
Penelitian ini juga menemukan bahwa tau membantu mencegah aktivitas berlebihan atau ‘kebisingan’ di otak, sehingga memastikan hanya sel-sel tertentu yang direkrut untuk menyimpan suatu memori, yang pada akhirnya menghasilkan memori yang lebih jelas dan lebih stabil.
Modifikasi kimia yang halus pada tau, yang disebut fosforilasi, diidentifikasi sebagai mekanisme utama yang mengoordinasikan aktivitas sel engram. Meskipun fosforilasi tau abnormal merupakan ciri khas penyakit Alzheimer, penelitian ini menunjukkan bahwa fosforilasi terkontrol dalam tingkat rendah sangat penting bagi fungsi normal otak.
Para peneliti mengatakan bentuk tau yang terkait dengan penyakit menghambat pembentukan memori baru maupun proses mengingat kembali, yang menunjukkan bahwa kehilangan memori terkait demensia dapat muncul akibat terganggunya pengorganisasian dan pemanggilan kembali memori, bukan semata-mata karena penyimpanan memori.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

‘Startup’ Jepang Space One gagal dalam peluncuran ke-3 roket Kairos
Indonesia
•
05 Mar 2026

Fregat Rusia yang dipersenjatai rudal hipersonik memulai tugas tempur
Indonesia
•
05 Jan 2023

Memahami sabuk radiasi sebagai pelindung bagi Bumi
Indonesia
•
31 Jul 2024

China rampungkan peta geologi Bulan skala 1:5.000.000, petakan lebih dari 13.500 kawah
Indonesia
•
07 Aug 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
