Forum Ekonomi Dunia: Resesi global sangat mungkin terjadi pada 2023

Seorang pedagang menjual sayuran di sebuah pasar di ibu kota Bangladesh, Dhaka, pada 3 Januari 2023. (Xinhua)
Resesi global pada 2023 sangat mungkin terjadi, mengingat inflasi yang tinggi saat ini, pertumbuhan rendah, utang tinggi, dan lingkungan fragmentasi tinggi mengurangi insentif untuk investasi yang dibutuhkan untuk kembali ke pertumbuhan dan meningkatkan standar hidup bagi yang paling rentan di dunia.
Jakarta (Indonesia Window) – Dua pertiga dari kepala ekonom sektor swasta dan publik yang disurvei oleh Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) memperkirakan resesi global akan terjadi pada tahun 2023, kata penyelenggara pertemuan tahunan WEF di Davos, Swiss, pada Senin.Pertemuan tahunan WEF 2023 yang mengumpulkan para pemimpin bisnis dan pemerintah tersebut digelar pada 16-20 Januari.Sekitar 18 persen menganggap resesi dunia "sangat mungkin" – lebih dari dua kali lipat dari survei sebelumnya yang dilakukan pada September 2022. Hanya sepertiga responden survei yang melihatnya sebagai tidak mungkin tahun ini."Inflasi tinggi saat ini, pertumbuhan rendah, utang tinggi, dan lingkungan fragmentasi tinggi mengurangi insentif untuk investasi yang dibutuhkan untuk kembali ke pertumbuhan dan meningkatkan standar hidup bagi yang paling rentan di dunia," kata managing director WEF Saadia Zahidi dalam sebuah pernyataan yang menyertai hasil survei tersebut.Survei WEF didasarkan pada 22 tanggapan dari sekelompok ekonom senior yang diambil dari lembaga internasional termasuk Dana Moneter Internasional (IMF), bank investasi, perusahaan multinasional, dan kelompok reasuransi.Survei tersebut dilakukan setelah Bank Dunia (World Bank) pekan lalu memangkas perkiraan pertumbuhan 2023 ke tingkat yang mendekati resesi untuk banyak negara karena dampak kenaikan suku bunga bank sentral meningkat, perang Rusia di Ukraina berlanjut, dan mesin ekonomi utama dunia tergagap.Definisi tentang apa yang dimaksud dengan resesi berbeda-beda di seluruh dunia tetapi umumnya mencakup prospek ekonomi yang menyusut, mungkin dengan inflasi tinggi dalam skenario ‘stagflasi’.Mengenai inflasi, survei WEF melihat variasi regional yang besar, yakni proporsi perkiraan inflasi tinggi pada tahun 2023 berkisar dari hanya 5 persen untuk China hingga 57 persen untuk Eropa, di mana dampak kenaikan harga energi tahun lalu telah menyebar ke ekonomi yang lebih luas.Mayoritas ekonom melihat pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut di Eropa dan Amerika Serikat (AS), (masing-masing 59 persen dan 55 persen), dengan pembuat kebijakan terperangkap di antara risiko pengetatan yang terlalu banyak atau terlalu sedikit.Sumber: ReutersLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Minyak fluktuatif setelah Libya hentikan ekspor, Shanghai siap dibuka
Indonesia
•
19 Apr 2022

Optimisme konsumen terjaga di Juli 2022 dengan indeks keyakinan 123,2
Indonesia
•
08 Aug 2022

Kredit konsumen AS terus meningkat pada November 2022
Indonesia
•
10 Jan 2023

Presiden Bank Sentral Eropa isyaratkan kenaikan suku bunga lebih lanjut
Indonesia
•
06 Jun 2023
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
