Saham-saham AS melonjak usai Trump tunda sejumlah besar tarif

Seorang pedagang bekerja di lantai Bursa Efek New York (New York Stock Exchange) di New York, Amerika Serikat, pada 8 April 2025. (Xinhua/Michael Nagle)
Saham-saham Amerika Serikat meroket setelah Donald Trump mengumumkan jeda selama 90 hari untuk tarif-tarif resiprokal tertentu, memicu rebound yang kuat di pasar yang telah berada di bawah tekanan kuat dalam sepekan terakhir.
New York City, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Saham-saham Amerika Serikat (AS) meroket pada Rabu (9/4) setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan jeda selama 90 hari untuk tarif-tarif "resiprokal" tertentu, memicu rebound yang kuat di pasar yang telah berada di bawah tekanan kuat dalam sepekan terakhir.Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 2.962,86 poin atau 7,87 persen, dan ditutup di angka 40.608,45. S&P 500 melonjak 474,13 poin atau 9,52 persen menjadi 5.456,90, yang merupakan lonjakan terbesarnya dalam satu hari sejak 2008. Nasdaq Composite Index menguat 1.857,06 poin atau 12,16 persen dan ditutup di angka 17.124,97, menandai kenaikan dalam satu hari paling signifikan sejak Januari 2001 sekaligus terbesar kedua dalam sejarah bagi Nasdaq.Seluruh 11 sektor utama dalam S&P 500 ditutup di angka yang lebih tinggi. Sektor teknologi dan konsumen memimpin, dengan masing-masing naik 14,15 persen dan 11,36 persen. Meski tetap tergolong kuat, sektor utilitas membukukan kenaikan terkecil pada Rabu, dengan kenaikan 3,91 persen.Sementara itu, volume perdagangan mencatat lonjakan dramatis, dengan sekitar 30 miliar saham berpindah tangan, volume harian tertinggi dalam sejarah di Wall Street."Saya telah mengesahkan JEDA 90 hari, dan Tarif Resiprokal yang diturunkan secara substansial selama periode ini, sebesar 10 persen, juga langsung diberlakukan," tulis Trump di platform media sosial Truth Social. Dalam unggahan yang sama, presiden AS itu menyatakan bahwa dirinya akan kembali menaikkan tarif impor terhadap China menjadi 125 persen.Pada hari yang sama, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi bahwa jeda tersebut akan berlaku untuk semua negara kecuali China. Dia mengatakan bahwa tarif dasar akan kembali ke 10 persen selama periode negosiasi, tetapi tarif sektoral akan tetap berlaku.
Para pedagang bekerja di lantai Bursa Efek New York (New York Stock Exchange) di New York, Amerika Serikat, pada 8 April 2025. (Xinhua/Michael Nagle)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

China luncurkan langkah-langkah bangun sistem dasar untuk data
Indonesia
•
20 Dec 2022

The Hill: Dana talangan mahasiswa elitis abaikan warga AS yang berjuang dalam perekonomian
Indonesia
•
10 Mar 2023

Atasi krisis tenaga kerja, 65 persen perusahaan Jepang rekrut pekerja asing
Indonesia
•
31 Dec 2024

China yakin pertahankan perdagangan luar negeri dan pangsa pasar global yang stabil pada 2023
Indonesia
•
29 Dec 2023
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
