
Sampah di Gaza menumpuk dan mengancam jiwa, Israel halangi pemindahan ke TPA

Anak-anak pengungsi Palestina terlihat di antara tenda-tenda sementara di barat Gaza City pada 3 Maret 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Penyakit mulut dan kuku kini semakin meningkatkan kekhawatiran bagi komunitas Bedouin dan para penggembala yang rentan, di mana ternak merupakan sumber pendapatan dan pangan utama mereka.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (7/5) mendesak otoritas Israel untuk mengizinkan petugas sanitasi Gaza memindahkan sampah dari lokasi pengungsian dan kawasan permukiman ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang telah ditetapkan di Gaza guna mengurangi risiko kebakaran yang berpotensi mengancam nyawa.
Pada Jumat (1/5) lalu, tim PBB mengerahkan truk tangki air dan alat berat untuk mendukung petugas yang menangani kebakaran di pasar Firas, di pusat Gaza City, tepat di sebelah tempat penampungan warga, yang telah digunakan sebagai tempat pembuangan sampah padat utama, karena TPA yang telah ditetapkan tidak dapat diakses selama konflik berlangsung, demikian menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) dalam sebuah rilis persnya.
Akibatnya, tumpukan sampah di Pasar Firas kini menutupi seluruh blok kota, dengan ketinggian melampaui empat lantai, kata OCHA, seraya menekankan sejumlah mitra sanitasi melaporkan bahwa dua TPA sanitasi di Gaza berada di dekat pagar perbatasan yang mengelilingi wilayah tersebut, di mana aksesnya memerlukan izin dari otoritas Israel.
OCHA juga menekankan perlunya izin untuk memasukkan alat berat ke Gaza guna mengangkut sampah, puing-puing, dan amunisi peledak, serta suku cadang yang diperlukan untuk mengoperasikan peralatan tersebut.
Kantor tersebut menyatakan bahwa otorisasi semacam itu juga sangat penting untuk mengatasi risiko-risiko kesehatan yang terkait dengan hama dan hewan pengerat.
Mitra kemanusiaan PBB melaporkan bahwa akses masyarakat terhadap air masih menjadi tantangan. Dengan infrastruktur yang hancur, sekitar 40 mitra kemanusiaan mengirimkan sekitar 20.000 meter kubik air dengan truk setiap harinya, sebuah operasi yang sangat bergantung pada pasokan bahan bakar dan pendanaan berkelanjutan, papar kantor tersebut.
"Untuk memenuhi kebutuhan air minum dan memasak, keluarga diharuskan mengambil air langsung dari truk di sekitar 2.000 titik distribusi," ungkap OCHA. "Namun, banyak orang tidak memiliki wadah yang memadai untuk mengambil dan menyimpan air, dan penyedia layanan belum mampu sepenuhnya memastikan distribusi yang merata."
Di Tepi Barat, para pekerja kemanusiaan memperingatkan bahwa penyakit mulut dan kuku kini semakin meningkatkan kekhawatiran bagi komunitas Bedouin dan para penggembala yang rentan, di mana ternak merupakan sumber pendapatan dan pangan utama mereka. Mitra-mitra PBB melaporkan bahwa pembatasan pergerakan dan ketidakamanan mempersulit upaya vaksinasi dan penanganan veteriner secara tepat waktu.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Korban tewas akibat tanah longsor di India selatan bertambah jadi 256 orang
Indonesia
•
03 Aug 2024

COVID-19 – Satu dari 100 lansia di AS meninggal karena infeksi
Indonesia
•
14 Dec 2021

Tim Hong Kong berupaya keras dalam pencarian dan penyelamatan di Turkiye
Indonesia
•
13 Feb 2023

Guterres tekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai dan prinsip PBB di dunia
Indonesia
•
25 Oct 2022


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
