
Studi: Samudra Selatan lepaskan jauh lebih banyak CO2 pada musim dingin dibanding perkiraan

Foto yang diabadikan pada 29 Januari 2020 ini menunjukkan gunung es yang terlihat dari kapal pemecah es kutub China, Xuelong 2 atau Snow Dragon 2, di Samudra Selatan sebelum Xuelong 2 melintasi meridian utama. (Xinhua/Liu Shiping)
Samudra Selatan melepaskan jauh lebih banyak karbon dioksida (CO2) ke atmosfer selama musim dingin dibanding perkiraan sebelumnya, dengan prediksi emisi musiman kemungkinan lebih rendah dari jumlah aslinya hingga 40 persen.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Studi terbaru mengungkap bahwa Samudra Selatan melepaskan jauh lebih banyak karbon dioksida (CO2) ke atmosfer selama musim dingin dibanding perkiraan sebelumnya, dengan prediksi emisi musiman kemungkinan lebih rendah dari jumlah aslinya hingga 40 persen.Studi itu dipimpin oleh tim peneliti dari Institut Oseanografi Kedua di Kementerian Sumber Daya Alam China dan Institut Geografi dan Limnologi Nanjing (Nanjing Institute of Geography and Limnology/NIGLAS) di Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences), dan hasilnya telah dipublikasikan dalam edisi terbaru jurnal Science Advances.Samudra Selatan, yang juga dikenal sebagai Samudra Antarktika, mengelilingi Antarktika dan menghubungkan samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia.Menurut studi itu, Samudra Selatan memainkan peran krusial dalam siklus karbon Bumi. Namun, samudra itu juga menjadi sumber ketidakpastian terbesar dalam perkiraan global terkait pertukaran karbon dioksida antara samudra dan atmosfer. Ketidakpastian ini terutama disebabkan oleh kondisi ekstrem pada musim dingin selatan (austral winter), saat kawasan tersebut diselimuti oleh kegelapan berkelanjutan dan menghadapi cuaca buruk, sehingga pengamatan langsung hampir tidak mungkin dilakukan. Satelit konvensional, yang bergantung pada sinar matahari, tidak efektif selama periode ini, memaksa para ilmuwan mengandalkan model yang tidak lengkap.Untuk mengatasi tantangan ini, tim penelitian tersebut mengadopsi pendekatan yang inovatif, mengintegrasikan data selama 14 tahun yang dikumpulkan oleh sistem LIDAR satelit dengan teknik pembelajaran mesin (machine learning). Berbeda dengan satelit konvensional, LIDAR menggunakan sumber lasernya sendiri, memungkinkan pengumpulan data meski dalam kondisi gelap total. Metodologi ini menghasilkan catatan tahunan lengkap pertama terkait pertukaran karbon dioksida yang terjadi di kawasan tersebut.Temuan itu tidak hanya mengindikasikan pelepasan karbon dioksida saat musim dingin yang jumlahnya 40 persen lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya, tetapi juga memberikan wawasan baru mengenai dinamika siklus karbon di Samudra Selatan, menurut studi tersebut.Shi Kun, profesor di NIGLAS, menyampaikan bahwa hasil itu mengungkap bahwa peran Samudra Selatan dalam siklus karbon global lebih kompleks dan dinamis dibanding yang diketahui sebelumnya."Studi ini juga menggarisbawahi pentingnya teknologi baru, seperti sensor satelit aktif, dalam meningkatkan pemahaman kita tentang sistem iklim di Bumi," imbuh Shi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pakar sebut perubahan iklim tunda migrasi paus biru
Indonesia
•
14 Nov 2023

Facebook hapus 500 akun China yang sebarkan klaim palsu dan propaganda anti-AS
Indonesia
•
03 Dec 2021

Huawei luncurkan ponsel lipat dan jam tangan pintar baru di Indonesia
Indonesia
•
06 Mar 2026

Studi: Keanekaragaman pohon berikan ketahanan lebih kuat terhadap kekeringan
Indonesia
•
24 Sep 2022


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
