
Satelit astronomi China-Prancis deteksi semburan sinar gamma setelah uji coba di orbit

Roket Long March-2C yang mengangkut sebuah satelit astronomi, Space-based Multi-band Variable Object Monitor (SVOM), lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang di Provinsi Sichuan, China barat daya, pada 22 Juni 2024. (Xinhua/Chen Haojie)
Satelit astronomi yang dikembangkan bersama oleh China dan Prancis baru-baru ini mendeteksi semburan sinar gamma sejak diluncurkan dua pekan lalu, menandai awal yang menjanjikan untuk proyek kerja sama tingkat tinggi antara kedua negara.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah satelit astronomi yang dikembangkan bersama oleh China dan Prancis baru-baru ini mendeteksi semburan sinar gamma sejak diluncurkan dua pekan lalu, menandai awal yang menjanjikan untuk proyek kerja sama tingkat tinggi antara kedua negara.Setelah uji coba di orbit, platform satelit tersebut berfungsi dengan normal dan satelit itu juga telah membangun koneksi secara waktu nyata (real-time) dengan lebih dari 40 stasiun komunikasi di Bumi. Keempat muatan telah dengan sukses merampungkan uji coba penyalaan (power-on), menurut Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) pada Senin (8/7).Satelit tersebut, Space-based Multi-band Variable Object Monitor (SVOM), diluncurkan pada 22 Juni lalu. Dilengkapi dengan empat muatan ilmiah yang dikembangkan oleh para ilmuwan China dan Prancis, satelit itu merupakan satelit paling andal di dunia untuk pengamatan multi-panjang gelombang (multi-wavelength) dan pengamatan terintegrasi terhadap semburan sinar gamma.Di antara keempat muatan tersebut, monitor sinar gamma yang dikembangkan oleh Institute of High Energy Physics di bawah naungan CAS memulai uji coba di orbit pada 27 Juni dan berhasil menangkap semburan sinar gamma pertama, dengan kode GRB 240627B, pada hari yang sama. Hal ini menandai hasil deteksi pertama di orbit dari satelit SVOM.Monitor tersebut juga mendeteksi dua semburan sinar gamma lainnya pada 29 Juni dan 2 Juli. Hasil dari ketiga semburan sinar gamma tersebut telah dikirim ke General Coordinates Network, sebuah platform kolaborasi internasional untuk penelitian astronomi. CAS mengatakan bahwa pihaknya telah memverifikasi kemampuan deteksi presisi tinggi satelit tersebut untuk semburan sinar gamma.Satelit SVOM akan menyelesaikan berbagai uji coba oleh pusat operasi dan kendali satelit di bawah naungan CAS, dengan uji coba pengamatan ilmiah diperkirakan akan dimulai pada Agustus mendatang.Semburan sinar gamma, yang biasanya berdurasi sangat singkat, merupakan fenomena ledakan paling dahsyat di alam semesta setelah Big Bang, dan terjadi saat bintang masif hancur atau penggabungan bintang-bintang biner compact. Pengamatan dan penelitian mendalam terhadap semburan sinar gamma akan membantu manusia memahami beberapa pertanyaan mendasar dalam ilmu pengetahuan, ungkap Wei Jianyan, peneliti utama China untuk SVOM.Tujuan ilmiah utama SVOM meliputi mencari dan menemukan dengan cepat berbagai semburan sinar gamma, mengukur dan mempelajari sifat radiasi elektromagnetik secara komprehensif, menyelidiki energi gelap (dark energy) dan evolusi alam semesta melalui semburan ini, serta mengamati sinyal-sinyal elektromagnetik yang berkaitan dengan gelombang gravitasi, tutur Wei.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Kapal pelacak antariksa China angkat sauh untuk misi baru
Indonesia
•
19 Dec 2022

Situs pengamatan Lenghu di Qinghai tanda tangani proyek teleskop astronomis baru
Indonesia
•
31 Jul 2023

Ilmuwan temukan gletser paling tebal di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang
Indonesia
•
30 Sep 2024

Ilmuwan China teliti soal ingatan berurutan pada otak manusia
Indonesia
•
12 Feb 2022


Berita Terbaru

Peneliti China kembangkan baterai lithium-sulfur baru untuk bantu ‘drone’ terbang lebih jauh
Indonesia
•
12 May 2026

Aplikasi AI Libra dukung aktivitas korporasi dan bisnis
Indonesia
•
12 May 2026

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026
