
Sekjen PBB desak Myanmar kembali ke jalur demokrasi

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres berbicara kepada awak media di markas besar PBB di New York pada 3 Oktober 2022. (Xinhua/Xie E)
Demokrasi di Myanmar telah hancur dalam konflik berdarah yang pecah sejak militer menggulingkan pemerintah sipil Aung San Suu Kyi pada Februari tahun lalu, dengan ribuan orang tewas.
Jakarta (Indonesia Window) – Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Sabtu mendesak junta militer untuk "segera" memulai kembali demokrasi di Myanmar, dengan mengatakan itu adalah satu-satunya cara untuk menghentikan "mimpi buruk tanpa akhir" yang melanda negara Asia Tenggara itu.Myanmar telah mengalami konflik berdarah sejak militer menggulingkan pemerintah sipil Aung San Suu Kyi pada Februari tahun lalu, dengan ribuan orang tewas.Krisis yang meningkat mendominasi pertemuan puncak blok regional Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), yang sejauh ini telah menjalankan upaya diplomatik yang sia-sia untuk mengakhiri pertumpahan darah."Situasi di Myanmar adalah mimpi buruk yang tak berkesudahan bagi rakyat dan ancaman bagi perdamaian dan keamanan di seluruh kawasan," kata Guterres kepada wartawan.“Saya mendesak pihak berwenang Myanmar untuk mendengarkan rakyat mereka, membebaskan tahanan politik dan mengembalikan transisi demokrasi ke jalurnya segera. Itulah satu-satunya jalan menuju stabilitas dan perdamaian.”Setelah bertemu dengan para pemimpin ASEAN, Guterres mengatakan sangat penting bahwa rencana perdamaian yang disepakati dengan junta – tetapi sejauh ini tidak dilaksanakan – mulai berlaku.“Serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil sangat mengerikan dan memilukan,” katanya.Sebuah ‘konsensus lima poin’ yang bertujuan untuk mengakhiri kekacauan di Myanmar, yang disepakati dengan junta pada April tahun lalu, sejauh ini telah diabaikan oleh para jenderal.Para pemimpin ASEAN yang semakin frustrasi pada hari Jumat (11/11) menugaskan menteri luar negeri mereka untuk membuat rencana konkret guna mengimplementasikan konsensus tersebut.
Sejumlah orang menyeberang jalan di depan Balai Kota di Yangon, Myanmar, pada 1 Agustus 2022. Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional Myanmar pada Ahad (31/7/2022) memutuskan untuk memperpanjang status darurat selama enam bulan ke depan. Keputusan ini diambil demi persiapan yang diperlukan untuk penyelenggaraan pemilihan umum multipartai, kata dewan tersebut. (Xinhua/Myo Kyaw Soe)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Diplomat Hongaria janji jadikan Majelis Umum PBB lebih berdampak
Indonesia
•
13 Sep 2022

Pengurus Masjidil Haram kurangi pemakaian air kamar mandi 65 persen
Indonesia
•
09 Dec 2019

Garda Revolusi Iran tak segan gunakan rudal untuk hentikan armada AS lintasi Selat Hormuz
Indonesia
•
11 Mar 2026

Moody's tempatkan peringkat kredit Israel dalam peninjauan untuk diturunkan
Indonesia
•
26 Oct 2023


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
