
Survei sebut Selandia Baru alami erosi tanah tingkat tinggi

Foto yang diabadikan pada 11 Oktober 2021 ini menunjukkan pemandangan bebatuan besar dan singkapan batu di Castle Hill di Pegunungan Alpen Selatan, Selandia Baru. (Xinhua/Lu Huaiqian)
Selandia Baru mengalami erosi tanah tingkat tinggi akibat medan yang terjal, curah hujan yang tinggi, dan gempa bumi, di mana wilayah Gisborne memiliki proporsi titik rawan risiko tanah longsor tertinggi, dengan 47 persen sedimen terbawa ke aliran sungai.
Wellington, Selandia Baru (Xinhua) – Selandia Baru mengalami erosi tanah tingkat tinggi akibat medan yang terjal, curah hujan yang tinggi, dan gempa bumi, demikian menurut departemen statistik negara tersebut, Stats NZ, pada Rabu (27/3).Sekitar 60 persen lahan di Selandia Baru yang sangat mudah terkikis terletak di Pulau Utara (North Island) pada 2022, meski Pulau Utara hanya mencakup 43 persen dari total luas daratan Selandia Baru, ungkap Stats NZ, seraya menambahkan bahwa temuan tersebut konsisten dengan temuan yang dilaporkan pada 2019, walau didasarkan pada data dengan resolusi lebih tinggi hingga 2022.Erosi tanah dapat berdampak pada produktivitas lahan, kualitas air, bentuk alami lahan, dan infrastruktur, kata Stuart Jones, manajer senior statistik lingkungan dan pertanian Stats NZ.Menggunakan data yang dimodelkan dari Landcare Research, indikator-indikator menunjukkan tingkat erosi tanah jangka panjang, serta jumlah lahan yang berisiko mengalami tanah longsor, erosi aliran tanah, dan erosi lurah (gully).Dari seluruh wilayah di Selandia Baru, Gisborne, sebuah kota di pesisir timur Pulau Utara, pada 2022 memiliki proporsi tertinggi untuk lahan yang diklasifikasikan sebagai lahan yang sangat mudah terkikis, yaitu sebesar 15 persen atau 1.280 kilometer persegi, ujar Jones. Dia menambahkan bahwa Gisborne juga memiliki jumlah tanah tererosi tertinggi kedua yang terbawa ke saluran air, yakni 36 juta ton, pada 2022.Titik-titik rawan risiko tanah longsor di mana sedimen ikut terhanyut aliran sungai teridentifikasi di banyak wilayah di Selandia Baru, tutur Jones, seraya mengimbuhkan bahwa wilayah Gisborne memiliki proporsi titik rawan risiko tanah longsor tertinggi, dengan 47 persen sedimen terbawa ke aliran sungai.Pulau Utara juga mengalami kejadian cuaca ekstrem berupa Siklon Hale dan Gabrielle pada awal 2023, yang tidak tercakup oleh survei 2022.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

SpaceX konfirmasi satelit Starlink alami anomali saat di orbit
Indonesia
•
31 Mar 2026

China himpun pertanyaan ilmiah secara global terkait eksplorasi ‘deep space’
Indonesia
•
25 Nov 2022

LIPI: Padang lamun Indonesia dalam kondisi kurang sehat
Indonesia
•
02 Jul 2020

Arab Saudi luncurkan kartu pintar haji untuk mudahkan layanan
Indonesia
•
28 Dec 2020


Berita Terbaru

Peneliti China kembangkan baterai lithium-sulfur baru untuk bantu ‘drone’ terbang lebih jauh
Indonesia
•
12 May 2026

Aplikasi AI Libra dukung aktivitas korporasi dan bisnis
Indonesia
•
12 May 2026

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026
