
Feature – Kisah pilu gadis Gaza yang kehilangan rambutnya di tengah trauma perang

Sama Tubail, seorang gadis Palestina berusia delapan tahun, duduk seorang diri di depan sebuah tenda di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 25 Agustus 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Seorang gadis Palestina berusia delapan tahun di Jalur Gaza, mengangkat sebuah pecahan cermin untuk melihat apakah rambutnya telah tumbuh kembali.
Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Setiap pagi setelah bangun tidur, Sama Tubail, seorang gadis Palestina berusia delapan tahun di Jalur Gaza, mengangkat sebuah pecahan cermin untuk melihat apakah rambutnya telah tumbuh kembali."Sepertinya rambut saya tidak akan pernah kembali seperti semula. Saya sangat sedih karena kehilangan rambut saya dan menjadi botak," keluh gadis kecil itu.Lima bulan lalu, Tubail masih memiliki rambut panjangnya. Dia kerap menata rambutnya, membuat dirinya menjadi pusat perhatian di tengah kawan-kawannya.Pada masa-masa itu, Tubail sangat senang bermain dengan kawan-kawannya. Saat berbincang-bincang dengan Xinhua, gadis cilik itu mengatakan semua itu dapat membantunya mengatasi rasa takut di tengah serangan bertubi-tubi Israel di daerah kantong pesisir tersebut.Kemudian, tiba-tiba saja hidupnya berubah drastis saat pasukan Israel menyerang sebuah rumah di dekat tenda keluarganya di Rafah, Gaza selatan. Keluarganya pun terpaksa mengungsi ke Rumah Sakit Lapangan Indonesia di kota itu."Saya terbangun mendengar bunyi ledakan dahsyat yang mengerikan di dekat kami. Tanpa sempat menyadari apa yang sedang terjadi, ayah menggendong saya dan saudara perempuan saya lalu berlari ke jalan, meminta ibu saya untuk mengikutinya," kenang gadis cilik itu."Saya mendengar jantungnya berdegup kencang. Saya ketakutan dan merasa seolah kematian sedang mengejar kami," ujarnya dengan suara bergetar. "Kami tiba di rumah sakit untuk bersembunyi di dalamnya. Kami pikir itu tempat yang aman, namun tentara menembaki atap rumah sakit dan kami menghabiskan sepanjang malam di tengah serangan Israel yang tak kunjung berhenti."
Sama Tubail, seorang gadis Palestina berusia delapan tahun, memandangi pantulan wajahnya pada sebuah pecahan cermin di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 25 Agustus 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Sama Tubail, seorang gadis Palestina berusia delapan tahun, memandangi pantulan wajahnya pada sebuah pecahan cermin di sebuah tenda di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 25 Agustus 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Saudi luncurkan “Manaratul Haramain” untuk belajar ilmu Islam
Indonesia
•
02 May 2020

Feature – Pengungsi Suriah di Lebanon hadapi kondisi kehidupan yang buruk di tengah ketegangan Hizbullah-Israel
Indonesia
•
15 Aug 2024

Menabung waktu, menuai kebaikan
Indonesia
•
05 Nov 2019

Layanan telemedisin cakup seluruh kota di China
Indonesia
•
01 Aug 2023


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
