
Pakar sebut efek limpahan sistem keuangan AS sebabkan kekacauan perbankan Eropa

Foto yang diabadikan pada 4 April 2023 ini menunjukkan gedung Credit Suisse di Jenewa, Swiss. (Xinhua/Lian Yi)
Sistem keuangan Amerika Serikat telah menyebabkan industri perbankan Eropa berada dalam kekacauan karena mereka terlalu bergantung pada sistem keuangan internasional yang didominasi oleh dolar AS.
Singapura (Xinhua) – Kurangnya kebijakan dan pengawasan keuangan yang independen menyebabkan industri perbankan Eropa berada dalam kekacauan akibat adanya efek limpahan (spillover) dari sistem keuangan Amerika Serikat (AS), seperti diungkapkan seorang ekonom Singapura kepada Xinhua dalam sebuah wawancara baru-baru ini.Krisis yang menimpa Credit Suisse dan Deutsche Bank mencerminkan betapa rapuhnya beberapa bank Eropa ketika mereka terlalu bergantung pada sistem keuangan internasional yang didominasi oleh dolar AS, ujar Yan Li, seorang dosen senior di Nanyang Business School dari Nanyang Technological University, Singapura."Risiko keuangan sistemik yang tumpang tindih dan kurangnya kepercayaan bersama memicu krisis perbankan di Eropa," kata Yan, sembari menambahkan bahwa situasi itu dapat menyebabkan industri perbankan dan ekonomi Eropa menghadapi masa-masa sulit di masa depan."AS mungkin akan memperlambat kenaikan suku bunga, tetapi tidak dapat menghentikannya. Oleh karena itu, industri perbankan Eropa akan menghadapi risiko-risiko sistemik yang semakin besar," ujar ekonom tersebut.Kendati demikian, Yan mengatakan bahwa krisis perbankan yang sedang terjadi di beberapa negara Eropa dan AS saat ini sepertinya tidak akan memburuk menjadi krisis keuangan global seperti yang terjadi pada 2008."Kolapsnya industri perbankan dan bahkan sistem keuangan di Eropa dan AS tidak dapat dibendung, sehingga pemerintah-pemerintah terkait akan berupaya semaksimal mungkin guna menghentikan penyebaran krisis ini," paparnya.Di Eropa, bank terbesar kedua di Swiss Credit Suisse diambil alih oleh raksasa perbankan Swiss UBS akibat krisis likuiditas dan volatilitas pasar. Selain itu, pada Maret yang sama, harga saham Deutsche Bank, lembaga pemberi pinjaman terbesar di Jerman, anjlok di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kesehatan bank-bank Eropa.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Telaah – Teknologi benih dorong mekanisasi kapas di Xinjiang, China
Indonesia
•
11 Jul 2025

Kemenkop UKM targetkan 30 juta UMKM digital pada 2024
Indonesia
•
06 Aug 2021

Produksi sedan di Iran tumbuh 20 persen
Indonesia
•
06 Sep 2020

Trump sebut tarif untuk Meksiko ditangguhkan hingga 2 April
Indonesia
•
07 Mar 2025


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
