
Tim ilmuwan pantau radiasi Matahari permukaan menggunakan pengindraan jauh pada satelit

Foto yang diabadikan pada 31 Desember 2024 ini menunjukkan pemandangan matahari terbenam di Perth, Australia. (Xinhua/Ma Ping)
Sistem pengamatan jaringan satelit geostasioner mampu menyediakan data pemantauan radiasi Matahari permukaan berskala hampir global dengan resolusi spasial 5 km dan frekuensi pengamatan satu kali per jam.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah sistem pengamatan jaringan satelit geostasioner (geostationary satellite network observation/GSNO) dikembangkan untuk memantau perubahan radiasi Matahari permukaan (surface solar radiation/SSR) secara tepat menggunakan teknologi pengindraan jauh pada satelit, demikian disampaikan Institut Penelitian Informasi Kedirgantaraan (Aerospace Information Research Institute/AIR) yang dinaungi oleh Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Berfungsi seperti "pemindai sinar matahari", sistem GSNO ini dapat memberikan dukungan data yang lebih akurat untuk berbagai sektor, seperti penerapan energi bersih, estimasi hasil pertanian, dan respons perubahan iklim, serta kesehatan masyarakat, kata institut tersebut.Penelitian ini dipimpin oleh tim peneliti AIR dan dilakukan lewat kolaborasi dengan para peneliti dari berbagai institusi, baik institusi dari dalam maupun luar China. Hasil penelitian telah dipublikasikan di jurnal The Innovation.Radiasi Matahari permukaan adalah istilah umum untuk komponen radiasi Matahari yang diterima oleh permukaan Bumi, termasuk sinar ultraviolet, cahaya tampak (visible light), inframerah, dan radiasi elektromagnetik lain dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Oleh karena itu, radiasi ini merupakan faktor kunci yang memengaruhi perubahan iklim, produksi pertanian, dan penerapan energi surya."Teknologi pengindraan jauh pada satelit memiliki kontinuitas data yang kuat dan cakupan yang luas. Teknologi ini menjadi salah satu cara paling efektif untuk memantau perubahan dalam radiasi Matahari permukaan," jelas Husi Letu, peneliti AIR sekaligus pemimpin penelitian ini.Secara khusus, tim peneliti mengintegrasikan beberapa satelit geostasioner generasi baru ke dalam sistem GSNO.Melalui jaringan multisatelit, sistem ini mencapai pemantauan resolusi spasial temporal (spatiotemporal) yang tinggi pada skala hampir global dengan akurasi deteksi yang lebih baik."Saat ini, sistem GSNO mampu menyediakan data pemantauan radiasi Matahari permukaan berskala hampir global dengan resolusi spasial 5 km dan frekuensi pengamatan satu kali per jam," kata Shi Chong, seorang peneliti AIR.Sebagai contoh, data radiasi gelombang pendek dapat mendukung penggunaan sumber daya energi Matahari secara efektif. Data radiasi yang aktif secara fotosintesis dapat memberikan dasar baru untuk estimasi hasil pertanian dan estimasi penyerap karbon ekologis, sedangkan data ultraviolet diharapkan dapat diterapkan untuk bidang kesehatan masyarakat, jelas Shi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China berikan akses ke stasiun luar angkasanya untuk proyek ilmu antariksa
Indonesia
•
26 Jul 2023

Luas lautan es Antarktika pada Juli 2022 tercatat terkecil dalam sejarah
Indonesia
•
10 Aug 2022

Peneliti China kembangkan teknologi baru untuk produksi propilena
Indonesia
•
25 Dec 2023

COVID-19 – Studi: Tes usap hidung masih metode terbaik untuk uji infeksi
Indonesia
•
22 Jun 2022


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
