
Studi China tentang biosintesis kitin beri petunjuk pengembangan pestisida hijau

Mesin-mesin traktor menyemprotkan pestisida di sebuah ladang gandum di Kota Wanggang, wilayah Yingshang, Provinsi Anhui, China timur, pada 6 Maret 2021. (Xinhua/Huang Bohan)
Pestisida hijau yang aman dapat dikembangkan dari kitin, yang merupakan aminopolisakarida paling melimpah di Bumi, dan biosintesisnya sangat penting bagi kelangsungan hidup dan reproduksi sejumlah besar organisme, termasuk banyak jenis hama, jamur patogen, dan oomycetes atau jamur air yang dapat menyebabkan gangguan serius pada produksi tanaman.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah studi baru yang dilakukan oleh para ilmuwan China untuk pertama kalinya berhasil mengungkap proses lengkap biosintesis kitin, memberikan arah baru bagi inovasi awal pestisida ramah lingkungan.Kitin merupakan komponen utama dari eksoskeleton invertebrate (hewan tak bertulang belakang), krustasea (udang-udangan) dan insekta (serangga), yang berfungsi sebagai komponen penyokong dan pelindung.Studi tersebut diterbitkan di jurnal Nature pada Rabu (21/9), menurut Akademi Ilmu Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences/CAAS).Pestisida diketahui dapat menurunkan banyak kerugian ekonomi, namun pemakaiannya menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari toksisitas (elemen yang mengandung racun) hingga ketahanannya terhadap hama dan penyakit.Inti dari pengembangan pestisida hijau yang aman dengan mekanisme aksi baru terletak pada target molekuler pestisida. Target molekuler pestisida tertentu dapat melahirkan puluhan bahkan ratusan pestisida baru.Kitin merupakan aminopolisakarida yang paling melimpah di Bumi, dan biosintesisnya sangat penting bagi kelangsungan hidup dan reproduksi sejumlah besar organisme, termasuk banyak jenis hama, jamur patogen, dan oomycetes atau jamur air yang dapat menyebabkan gangguan serius pada produksi tanaman. Namun, karena kitin tidak terdapat pada tumbuhan dan mamalia, senyawa tersebut merupakan target molekuler yang ideal bagi pengembangan fungisida atau insektisida ramah lingkungan.Kendati demikian, hanya sedikit yang diketahui tentang mekanisme biosintesis kitin dalam studi-studi sebelumnya.Para ilmuwan dari Institut Perlindungan Tanaman CAAS mempelajari PsChs1, sebuah sintase kitin dari Phytophthora Sojae, patogen utama penyebab pembusukan pada rimpang kedelai, yang menyebabkan kerugian ekonomi lebih dari satu miliar dolar AS setiap tahun di seluruh dunia.Para peneliti menganalisis struktur mikroskopis cryo-electron dari PsChs1, dan mengungkap seluruh proses lengkap biosintesis kitin untuk pertama kalinya.*1 dolar AS = 15.011 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China tingkatkan dukungan untuk uji klinis, percepat pengembangan obat
Indonesia
•
22 May 2024

Menilik kegagahan Shandong, kapal induk pertama yang diproduksi di China
Indonesia
•
23 Dec 2024

Feature – Tambang hijau China olah limbah material pengotor batu bara
Indonesia
•
02 Apr 2026

Spanyol berencana ubah waduk jadi ‘baterai’ untuk penyimpanan energi surplus
Indonesia
•
03 Aug 2024


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
