
Studi: Polusi ozon ancam kesehatan vegetasi

Seorang anggota penelitian ilmiah memeriksa sebuah unit Ozone flux di base camp Gunung Qomolangma pada 3 Mei 2022. (Xinhua/Jiang Fan)
Polusi ozon bisa mengubah warna bunga dan mengganggu sinyal visual penyerbuk, serta merusak daun tumbuhan dengan sangat cepat, menjadikannya sulit berfotosintesis dan menghasilkan energi untuk pertumbuhannya.
Beijing, China (Xinhua) – Tim peneliti China menemukan bahwa polusi ozon menyebabkan kerusakan yang meluas pada vegetasi, menurut sebuah makalah yang dipublikasikan dalam jurnal Trends in Ecology & Evolution.Di stratosfer, ozon terbentuk secara alami dan membantu melindungi Bumi dari sinar yang membahayakan. Namun, di area-area di bawah stratosfer, ozon merupakan polutan berbahaya yang terbentuk dari reaksi sejumlah senyawa organik volatil dan nitrogen oksida di bawah sinar matahari, menurut studi itu."Ozon dapat mempercepat masa berbunga dan memperpanjang durasinya, yang memengaruhi interaksi antara tanaman dan penyerbuk," ujar Evgenios Agathokleous, profesor di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Informasi Nanjing.Dia menambahkan bahwa polusi ozon juga mengubah warna bunga dan mengganggu sinyal visual penyerbuk.Studi itu juga menunjukkan bahwa polusi ozon dapat merusak daun tumbuhan dengan sangat cepat, menjadikannya sulit berfotosintesis dan menghasilkan energi untuk pertumbuhannya.Perubahan iklim
Perubahan iklim dapat memperburuk terjadinya polusi ozon permukaan, yang berakibat pada semakin buruknya dampak kesehatan bagi ratusan juta manusia.Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC), probabilitas terjadinya kebakaran hutan hebat kemungkinan akan meningkat sebesar 40 hingga 60 persen pada akhir abad ini berdasarkan skenario emisi tinggi, dan sebesar 30 hingga 50 persen berdasarkan skenario emisi rendah.Jika emisi gas rumah kaca tetap tinggi dan suhu global naik sebesar tiga derajat Celsius dari level praindustri pada paruh kedua abad ke-21, level ozon permukaan diperkirakan akan meningkat di wilayah-wilayah yang berpolusi tinggi, khususnya di Asia.
Sejumlah kendaraan dan orang melintas di sebuah jalan di tengah kabut asap saat kualitas udara memburuk di New Delhi, ibu kota India, pada 9 November 2021. (Xinhua/Partha Sarkar)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Iran mengatakan telah membangun rudal balistik hipersonik
Indonesia
•
11 Nov 2022

Studi di Australia temukan ‘sakelar pengaman' kanker yang blokir serangan imun
Indonesia
•
22 Dec 2025

COVID-19 – Ahli: Pandemik dapat berakhir dalam setahun dengan skenario pesimistis
Indonesia
•
04 Apr 2021

Huawei luncurkan pusat data awan baru di ibu kota Arab Saudi
Indonesia
•
06 Sep 2023


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
