
Studi ungkap gen stres lebih mudah teraktivasi pada otak penderita skizofrenia

Ilustrasi. (Yousef Salhamoud on Unsplash)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah gen yang berperan dalam mengatur respons tubuh terhadap stres lebih mudah aktif di otak penderita skizofrenia, demikian ungkap penelitian terbaru. Temuan ini berpotensi membuka jalan bagi pengembangan pengobatan baru untuk gangguan kejiwaan.
Penelitian tersebut mengkaji gen FKBP5 dan protein FKBP51 terkait, yang membantu mengatur respons tubuh terhadap hormon stres seperti kortisol, menurut pernyataan yang dirilis pada Rabu (26/8) oleh Universitas Sydney (USYD) di Australia.
Dengan menggunakan jaringan otak yang didonorkan, para peneliti menemukan bahwa pada penderita skizofrenia, penanda kimiawi yang biasanya berfungsi mengendalikan gen FKBP5 telah hilang, sehingga menyebabkan aktivitas gen tersebut meningkat dan membuka peluang untuk mengembangkan pengobatan baru yang menargetkan gen tersebut.
"Bagi orang-orang yang kehilangan penanda kimiawi yang berfungsi mengendalikan gen stres mereka, kondisi itu ibarat volume pengeras suara yang terus berada pada tingkat tinggi," kata Natalie Matosin dari Fakultas Ilmu Kedokteran USYD, penulis senior studi yang diterbitkan dalam American Journal of Psychiatry.
Para peneliti dari USYD dan Institut Psikiatri Max Planck di Jerman menemukan bahwa perubahan pada sistem respons stres semakin nyata seiring bertambahnya usia.
Hal ini berarti sistem tersebut dapat lebih mudah terpicu dan tetap aktif dalam waktu lebih lama. Perubahan tersebut pada akhirnya meningkatkan kerentanan terhadap gangguan kejiwaan seperti skizofrenia di kemudian hari.
Matosin mengatakan perubahan respons terhadap stres terutama terkonsentrasi di korteks frontal otak, bagian yang berperan dalam mendukung fungsi memori, pengambilan keputusan, dan pengendalian emosi.
Respons stres yang terus-menerus meningkat dapat berarti bahwa, seiring bertambahnya usia otak, sirkuit di korteks frontal menjadi lebih rentan terhadap kerusakan, sehingga meningkatkan risiko terkena gangguan kejiwaan yang serius, imbuhnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China ungkap mekanisme panen tinggi tomat hasil budi daya
Indonesia
•
12 Apr 2024

Universitas China kembangkan kendaraan terbang bionik dengan durasi terbang panjang
Indonesia
•
28 Oct 2022

Ilmuwan China kembangkan komputer dengan kemampuan berpikir mirip otak kera
Indonesia
•
03 Aug 2025

China berada di garis terdepan dalam ekspor sepeda pintar
Indonesia
•
26 Jul 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
