
Studi ungkap pemanasan global hasilkan gandum lebih banyak dan lonjakan harga lebih tajam

Foto dari udara yang diabadikan pada 7 Juli 2022 ini menunjukkan sebuah mesin pemanen kombinasi sedang menuai gandum di sebuah ladang di wilayah Qitai di Prefektur Otonom Etnis Hui Changji, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut. (Xinhua/Zhang Xiaocheng)
Penelitian mengungkapkan bahwa di bawah pemanasan suhu 2 derajat Celsius, tingginya fertilisasi karbon dioksida akan mengompensasi naiknya tekanan pemanasan, yang menghasilkan peningkatan 1,7 persen dalam hasil panen gandum global.
Jakarta (Indonesia Window) – Sebuah studi baru memperkirakan bahwa harga global untuk biji-bijian akan menunjukkan lonjakan yang lebih tajam pada pemanasan suhu 2 derajat Celsius meskipun terdapat sedikit peningkatan produksi.Gandum merupakan tanaman biji-bijian utama di dunia, mengandung 20 persen protein dan kalori untuk lebih dari 3,5 miliar penduduk di seluruh dunia.Perjanjian Iklim Paris (Paris Climate Agreement) bertujuan untuk menjaga kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celsius. Para ilmuwan percaya bahwa bahkan jika target itu terpenuhi, pemanasan global akan mengubah hasil panen dan harga gandum di tahun-tahun mendatang.Tidak seperti penelitian sebelumnya mengenai dampak iklim yang berfokus pada hasil panen saja, studi baru tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal One Earth, mendemonstrasikan sebuah sistem model iklim-gandum-ekonomi baru. Hal ini memungkinkan para ilmuwan untuk memperkirakan dampak dari kedua kondisi iklim dan peristiwa ekstrem pada hasil panen dan harga gandum, serta rantai permintaan-pasokan gandum secara global.Para peneliti dari 13 lembaga di seluruh dunia mengerjakan penelitian itu, yang mengungkapkan bahwa di bawah pemanasan suhu 2 derajat Celsius, tingginya fertilisasi karbon dioksida akan mengompensasi naiknya tekanan pemanasan, yang menghasilkan peningkatan 1,7 persen dalam hasil panen gandum global.Meski demikian, hasil panen gandum yang lebih banyak tidak akan menghasilkan harga konsumen yang lebih rendah. Menurut penelitian tersebut, hasil panen gandum cenderung meningkat di lintang tinggi dan menurun di lintang rendah. Hal tersebut akan menyebabkan harga gandum berubah secara tidak merata, yang meningkatkan ketidaksetaraan yang ada.Model tersebut memprediksi bahwa hasil panen akan meningkat di negara dan wilayah berlintang tinggi, seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, dan sebagian besar Eropa utara. Namun, di negara-negara seperti Mesir, India, dan Venezuela, hasil panen gandum cenderung turun di beberapa daerah lebih dari 15 persen."Dengan perubahan hasil panen ini, posisi perdagangan tradisional pasar gandum bisa semakin mendalam. Hal ini dapat menyebabkan daerah pengimpor gandum di lintang rendah, seperti Asia Selatan dan Afrika Utara, mengalami lonjakan harga gandum yang lebih sering dan lebih tajam dibandingkan negara-negara pengekspor gandum," sebut Zhang Tianyi, pemimpin penelitian tersebut dari Institut Fisika Atmosfer di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Science/CAS).Perubahan-perubahan ini secara lebih lanjut menunjukkan bahwa negara-negara yang mengandalkan impor gandum akan membayar lebih untuk tanaman pangan penting di masa depan, dan harga gandum di pasar global akan menjadi lebih tidak stabil serta memperburuk ketidaksetaraan yang ada.Hal-hal ini juga akan menyebabkan kesenjangan pendapatan yang semakin lebar bagi petani, mengangkat pendapatan eksportir gandum namun menurunkan pendapatan importir, catat studi itu.Zhang bersama timnya berharap bahwa prediksi mereka akan mendorong aksi global."Membantu meningkatkan swasembada pangan biji-bijian di negara-negara berkembang sangat penting untuk ketahanan pangan global," katanya. "Ini layak untuk didiskusikan antarnegara dalam kebijakan kolaborasi pertanian internasional di masa depan."Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Perubahan iklim di Selandia Baru paksa paus sperma dan paus biru cari habitat baru
Indonesia
•
13 Aug 2022

Ilmuwan Australia kembangkan biosensor ‘microneedle’ untuk pantau kesegaran ikan secara waktu nyata
Indonesia
•
05 Dec 2025

China bangun stasiun Bumi komunikasi laser untuk transmisi data satelit skala besar
Indonesia
•
18 Sep 2024

Belut listrik 860 volt ditemukan di Amazon
Indonesia
•
13 Sep 2019


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
