
Survei ungkap tingkat kepuasan hidup warga Australia turun ke level terendah

Seorang pria mengisikan bahan bakar ke dalam truknya di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Canberra, Australia, pada 20 Maret 2026. (Xinhua/Zhang Na)
Warga Australia percaya kehidupan lebih baik 50 tahun yang lalu, dan 58,5 persen percaya kehidupan akan lebih buruk 50 tahun ke depan.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Rata-rata tingkat kepuasan hidup warga Australia turun ke level terendah sepanjang catatannya pada Maret tahun ini, demikian menurut survei edisi terbaru dari Universitas Nasional Australia (Australian National University/ANU) yang dipublikasikan pada Senin (20/4).
ANUpoll iterasi ke-29, yang sejak 2019 secara rutin menyurvei warga Australia mengenai kesejahteraan mereka, mencatat angka rata-rata kepuasan hidup sebesar 6,22 dari 10 berdasarkan 3.662 peserta, turun di bawah rekor terendah sebelumnya sebesar 6,35 pada Maret 2025.
Rata-rata kepuasan hidup turun sebesar 3,7 persen sejak edisi terakhir survei tersebut yang dilaksanakan pada Desember, menandai penurunan terbesar antarsurvei sejak pandemik COVID-19.
"Australia pada Maret 2026 adalah negara yang berada di bawah tekanan yang cukup besar," kata Nicholas Biddle, kepala Fakultas Politik dan Hubungan Internasional ANU sekaligus pemimpin proyek ANUpoll, dalam sebuah rilis pers.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah survei ini, lebih banyak responden menyatakan tidak puas dengan arah negara dibandingkan yang puas, dengan 54 persen tidak puas dan 46 persen puas hingga batas tertentu.
Hampir 60 persen responden mengatakan mereka percaya kehidupan lebih baik 50 tahun yang lalu, dan 58,5 persen percaya kehidupan akan lebih buruk 50 tahun ke depan.
Waktu pelaksanaan survei ini bersamaan dengan krisis pasokan minyak yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, yang menyebabkan harga bahan bakar di Australia melonjak.
Sebanyak 34,9 persen responden, angka tertinggi sepanjang sejarah, mengatakan merasa sulit atau sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan saat ini, sementara para responden yang berstatus pekerja mengatakan probabilitas rata-rata kemungkinan mereka akan kehilangan pekerjaan mencapai 26,8 persen, naik dari 19,2 persen pada Januari 2025.
Biddle mengatakan proporsi warga Australia berstatus pekerja yang secara khusus khawatir bahwa mesin atau program komputer akan menggantikan pekerjaan mereka naik hampir dua kali lipat sejak Maret 2018.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Badan kemanusiaan PBB sebut tak ada tempat aman bagi warga sipil di seluruh Gaza
Indonesia
•
03 Jan 2025

Bangkok bersiap hadapi peningkatan polusi udara
Indonesia
•
16 Jan 2024

PBB alokasikan 28,6 juta dolar AS untuk bantuan kemanusiaan di Somalia
Indonesia
•
23 Aug 2024

Warga Palestina yang tewas di Gaza capai 34.356 jiwa di tengah kekhawatiran operasi Israel di Rafah
Indonesia
•
30 Apr 2024


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
