Iran tidak akan hadiri KTT Perdamaian Gaza di Sharm el-Sheikh, Mesir

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi berbicara dalam konferensi pers gabungan dengan Menlu Irak Fuad Hussein serta Menteri Luar Negeri dan Ekspatriat Suriah Bassam Sabbagh (tidak ada dalam foto) setelah pertemuan trilateral di Baghdad, Irak, pada 6 Desember 2024. Pada Jumat (6/12), Menlu Irak Fuad Hussein mengadakan pertemuan trilateral dengan Araghchi dan Sabbagh untuk membahas situasi yang memburuk di Suriah serta konsekuensinya bagi negara-negara tetangga. (Xinhua/Khalil Dawo...
Teheran tidak akan menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) internasional di Kota Sharm el-Sheikh, Mesir, mengenai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Gaza.
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi pada Senin (13/10) mengatakan bahwa Teheran tidak akan menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) internasional di Kota Sharm el-Sheikh, Mesir, mengenai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Gaza."Meski mendukung upaya diplomatik, baik Presiden Pezeshkian maupun saya tidak dapat berinteraksi dengan para mitra yang telah menyerang rakyat Iran dan terus mengancam serta menjatuhkan sanksi terhadap kami," ungkap Araghchi di platform media sosial X.Iran menyambut baik setiap inisiatif yang bertujuan untuk mengakhiri "genosida" Israel di Gaza dan memastikan penarikan "pasukan pendudukan" Israel, ujarnya.Araghchi menjelaskan bahwa rakyat Palestina "sepenuhnya berhak untuk memperjuangkan hak asasi mereka atas penentuan nasib sendiri, dan semua negara tetap memiliki kewajiban yang lebih besar dari sebelumnya untuk membantu mereka dalam perjuangan yang legal dan sah."Dia menyebutkan Iran sejak dulu dan akan terus menjadi "kekuatan vital" bagi perdamaian di kawasan tersebut, seraya menambahkan bahwa berbeda dengan Israel, Iran tidak mencari "perang abadi" melainkan perdamaian, kemakmuran, dan kerja sama yang berkelanjutan.KTT di Sharm el-Sheikh yang dijadwalkan berlangsung pada Senin itu akan dihadiri oleh para pemimpin dari 20 lebih negara.KTT Sharm el-Sheikh pada 13 Oktober 2025 diselenggarakan bertujuan untuk mengukuhkan kesepakatan fase pertama penghentian konflik di Gaza, memfasilitasi gencatan senjata jangka menengah, merumuskan rencana pembebasan sandera, serta menyepakati langkah-langkah bantuan kemanusiaan yang mendesak.
Pertemuan ini dimaksudkan menjadi momen bagi para pemimpin dunia untuk menandatangani komitmen politik yang memperkuat mekanisme distribusi bantuan, membahas jalur aman bagi pengiriman logistik kemanusiaan, dan menetapkan kerangka waktu serta pengawas untuk realisasi pembebasan tahanan—semua itu diharapkan dapat meredam eskalasi lebih jauh dan memberi ruang bagi pemulihan darurat di Gaza.
Inisiatif dan kepemimpinan KTT tersebut diprakarsai oleh Mesir di bawah kepemimpinan Presiden Abdel Fattah el-Sisi, dengan dukungan diplomatik dan partisipasi dari sejumlah negara besar yang memberikan mandat politik untuk menegaskan isi kesepakatan perdamaian fase pertama.
Beberapa sesi serta agenda teknis pertemuan dipimpin bersama oleh tuan rumah regional dan mitra internasional untuk memastikan aspek militer, kemanusiaan, dan sipil dibahas lintas aktor—dengan tujuan agar hasil KTT tidak sekadar deklaratif tetapi juga dapat diimplementasikan melalui koordinasi regional dan internasional.
Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

12 negara Uni Eropa terdampak pemotongan gas Rusia
Indonesia
•
23 Jun 2022

AS akan tarik diri dari Dewan HAM PBB, hentikan pendanaan untuk UNRWA
Indonesia
•
06 Feb 2025

China, Jepang peringati 45 tahun Perjanjian Perdamaian dan Persahabatan tahun ini
Indonesia
•
05 Apr 2023

China akan jamin perlakuan nasional bagi perusahaan yang didanai asing
Indonesia
•
06 Mar 2024
Berita Terbaru

Nilai mata uang Iran anjlok ke level terendah dalam sejarah di tengah tekanan ekonomi
Indonesia
•
29 Jan 2026

Aktivis AS berencana gelar aksi protes kedua, tuntut agen federal hengkang dari Minnesota
Indonesia
•
29 Jan 2026

Badan Pangan PBB akan hentikan operasi di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi, akhiri kontrak 360 pegawai
Indonesia
•
29 Jan 2026

Swedia luncurkan program baru untuk tekan kekerasan laki-laki terhadap perempuan
Indonesia
•
29 Jan 2026
