
Ilmuwan China identifikasi target kunci untuk pengobatan adenomiosis yang dialami banyak wanita

Foto yang diabadikan pada 24 Juli 2025 ini menunjukkan para peneliti berpose untuk difoto bersama di College of Future Technology, Universitas Peking (Peking University/PKU) di Beijing, ibu kota China. (Xinhua/PKU)
Terapi hormon untuk adenomiosis saat ini memiliki efek samping serius seperti penekanan kesuburan serta osteoporosis.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah ilmuwan China telah berhasil mengidentifikasi target kunci dalam pengobatan adenomiosis, suatu kondisi yang dialami puluhan juta wanita dalam rentang usia reproduktif di seluruh dunia, memberikan harapan akan opsi terapeutik yang lebih aman dan efektif.Adenomiosis adalah kondisi ginekologi umum yang ditandai oleh pertumbuhan jaringan endometrium di dalam lapisan otot rahim. Gejala klinis utamanya meliputi dismenorea atau nyeri haid, menoragia atau pendarahan menstruasi yang berlebihan, nyeri panggul kronis, dan infertilitas.Saat ini, terapi hormon yang menyasar sinyal estrogen dan progesteron lazim digunakan untuk mengobati penyakit ini. Meskipun dapat meredakan gejala, terapi ini juga memiliki efek samping serius seperti penekanan kesuburan serta osteoporosis. Karena patogenesis adenomiosis belum jelas, tidak ada target terapeutik baru yang berhasil diidentifikasi oleh ilmuwan selama empat dekade terakhir, yang sangat membatasi pengembangan obat baru.Ilmuwan China telah mengidentifikasi reseptor prolaktin sebagai target kunci yang memicu adenomiosis. Untuk pertama kalinya, mereka menunjukkan bahwa aktivasi abnormal sinyal prolaktin berkaitan langsung dengan adenomiosis, dan memverifikasi potensi obat antibodi monoklonal yang menyasar reseptor prolaktin untuk pengobatan penyakit ini.Studi ini dilakukan bersama oleh tim riset dari Universitas Peking (Peking University/PKU) yang dipimpin oleh Xiao Ruiping dan Hu Xinli, bersama tim Zhu Lan dari Peking Union Medical College Hospital. Temuan mereka dipublikasikan dalam jurnal akademik internasional Signal Transduction and Targeted Therapy.Prolaktin adalah hormon yang mendorong perkembangan kelenjar susu dan laktasi. Reseptor prolaktin adalah protein yang terletak pada membran sel. Sinyal prolaktin diteruskan ke dalam sel melalui reseptor ini, memicu serangkaian respons seluler.Para peneliti menemukan bahwa, melalui analisis 13 sampel klinis, sinyal prolaktin aktif secara abnormal pada endometrium dan lesi ektopik pasien. Sinyal ini berperan penting dalam proliferasi sel endometrium ektopik dan fibrosis jaringan rahim, sehingga mempercepat perkembangan penyakit, ujar Hu.Para peneliti telah menyelesaikan uji klinis fase II untuk obat antibodi HMI-115 guna mengobati endometriosis. Hasil klinis dari 100 lebih pasien menunjukkan keamanan dan efektivitas obat tersebut.Secara khusus, studi ini mengonfirmasi efektivitas dari tindakan menyasar prolaktin dan reseptornya sebagai pendekatan terapeutik untuk adenomiosis, memperdalam pemahaman tentang patogenesisnya, kata Xiao, dekan College of Future Technology di PKU."Obat hormonal konvensional menghambat kehamilan dan tidak ramah terhadap kesuburan," ujarnya. "Kemajuan pengembangan obat yang menyasar reseptor prolaktin tidak hanya akan meringankan rasa sakit pasien, tetapi juga menjanjikan solusi yang sepenuhnya menyelesaikan dilema antara pengobatan dan infertilitas."Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Dua bayi binturong lahir di Bandung Zoo
Indonesia
•
31 May 2025

Sistem restorasi jaringan listrik otonomos berteknologi AI pertama China sukses diuji coba
Indonesia
•
05 Mar 2025

China laporkan tingkat pelestarian sumber daya plasma nutfah tanaman yang tinggi
Indonesia
•
28 Dec 2023

China akan rekrut 12 sampai 14 astronaut cadangan baru
Indonesia
•
28 Nov 2022


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
