
Ilmuwan China sukses lakukan ‘satellite laser ranging’ siang hari di ruang angkasa Bumi-Bulan

Wahana antariksa berawak Shenzhou-20, yang dibawa oleh roket pengangkut Long March-2F, lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan (Jiuquan Satellite Launch Center) di China barat laut pada 24 April 2025. (Xinhua/Li Xin)
Tiandu-1 merupakan satelit uji coba teknologi komunikasi dan navigasi, dan saat ini sedang mengorbit di antara Bumi-Bulan.
Kunming, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan China berhasil melakukan pengukuran jarak dengan laser satelit (satellite laser ranging/SLR) di ruang angkasa antara Bumi-Bulan pada siang hari untuk pertama kalinya di dunia, meskipun terdapat interferensi cahaya Matahari yang kuat. Pencapaian tersebut disampaikan Observatorium Yunnan, yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), pada Selasa (29/4).Menurut Li Yuqiang, seorang peneliti di Observatorium Yunnan, sebuah tim peneliti pada Ahad (27/4) berhasil menangkap sinyal balik laser dari retroreflektor satelit Tiandu-1, yang berjarak sekitar 130.000 km dari Bumi, menggunakan sistem jangkauan laser inframerah-dekat (near-infrared) Bulan yang baru saja menjalani pemutakhiran (upgrade) pada sebuah teleskop 1,2 meter.Capaian ini mencatatkan SLR siang hari pertama di dunia yang menjangkau ruang angkasa antara Bumi-Bulan, menandai terobosan teknologi baru bagi China di bidang pengukuran orbit luar angkasa dalam (deep space) yang berpresisi, imbuh Li.Pengukuran tersebut menyelesaikan sejumlah tantangan teknis utama seperti penekanan kebisingan latar belakang yang kuat dari Matahari, sehingga akan membantu meningkatkan kemampuan navigasi dan pemosisian di luar angkasa Bumi-Bulan. Pengukuran tersebut juga akan mendukung argumentasi dan implementasi proyek-proyek besar eksplorasi luar angkasa dalam di masa depan, misalnya Stasiun Penelitian Bulan Internasional (International Lunar Research Station/ILRS).Tim ilmuwan China itu terdiri dari para peneliti dari Laboratorium Eksplorasi Luar Angkasa Dalam China, Observatorium Yunnan dan Observatorium Astronomi Shanghai yang keduanya berada di bawah naungan CAS, Universitas Sun Yat-sen, Institut Teknik Satelit Shanghai, serta Pusat Kendali Antariksa Beijing (Beijing Aerospace Control Center/BACC).Tiandu-1 merupakan satelit uji coba teknologi komunikasi dan navigasi. Satelit itu diluncurkan pada 20 Maret 2024 dan saat ini sedang mengorbit di antara Bumi-Bulan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pengoperasian kembali reaktor nuklir Swedia yang rusak ditunda hingga 2023
Indonesia
•
14 Sep 2022

Sekjen PBB luncurkan badan penasihat di bidang AI
Indonesia
•
27 Oct 2023

Arab Saudi unggul dalam kecepatan dan jangkauan 5G dunia
Indonesia
•
28 Aug 2020

Jangkar besi dan peti kotak ditemukan dekat bangkai kapal kuno di Laut China Selatan
Indonesia
•
05 Jun 2023


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
