
Kisah – Penyintas gempa Sichuan di China kini selamatkan korban gempa di Turkiye

Para anggota dari Tim Penyelamat China Ramunion melakukan upaya penyelamatan di Belen, Turkiye, pada 9 Februari 2023. (Xinhua/Tim Penyelamat Ramunion)
Tim pencarian dan penyelamatan dari China yang membantu para korban gempa bumi dahsyat di Turkiye dan Suriah didukung oleh Zeng Qiangfei, seorang penyintas saat gempa bermagnitudo 7,0 mengguncang wilayah Lushan di Ya'an, Provinsi Sichuan, China barat daya, pada April 2013.
Chengdu, China (Xinhua) – Saat gempa bermagnitudo 7,0 mengguncang wilayah Lushan di Ya'an, Provinsi Sichuan, China barat daya, pada April 2013, Zeng Qiangfei masih berusia 15 tahun dan sedang mengikuti kelas pagi sebagai seorang siswa lokal."Kami bergegas turun dengan panik setelah merasakan guncangan dahsyat. Saya jatuh dan hampir terinjak. Untungnya, seorang teman sekelas dengan cepat menarik saya," kenang Zeng.Keluarganya kemudian ditempatkan di sebuah permukiman sementara karena rumah mereka, bersama dengan begitu banyak bangunan lainnya, telah menjadi puing.Kini, pemuda itu berada di Turkiye, berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa para korban setelah dua gempa bumi yang masing-masing bermagnitudo 7,7 dan 7,6 menghancurkan sejumlah provinsi di wilayah selatan negara itu pada 6 Februari.Sebagai salah satu anggota tim pencarian dan penyelamatan China Ramunion cabang Sichuan, tidak ada keraguan di hati Zeng untuk bergabung dengan tim penyelamat internasional itu setelah menerima panggilan dari kantor pusat pada 8 Februari.Administrasi untuk keluar dan masuk di Lushan mempercepat penerbitan paspor Zeng. Dalam kurun waktu dua hari, Zeng dan rekan-rekan setimnya memulai misi penyelamatan dengan membawa perlengkapan bantuan, disinfektan, alat penghancur tugas ringan, dan material bantuan lainnya.Pernah selamat dari gempa dahsyat, Zeng mengatakan rasa terima kasihnya kepada orang-orang yang memberikan bantuan pada kampung halamannya mendorongnya untuk membantu orang lain yang berada dalam bahaya, bahkan jika mereka berada di belahan dunia yang berbeda."Saat itu saya melihat para petugas penyelamat bekerja siang dan malam untuk mencari tanda-tanda kehidupan dan merawat para korban yang terluka. Memori semacam itu sangat kuat hingga benar-benar menghilangkan rasa takut saya," kata Zeng.Masyarakat Sichuan sudah tidak asing dengan gempa bumi. Dalam dua dekade terakhir, beberapa wilayah, termasuk Wenchuan, Jiuzhaigou, dan Lushan, pernah diguncang gempa bumi bermagnitudo di atas 7,0 dan kehilangan begitu banyak nyawa dan properti.Setelah bencana dahsyat tersebut, tim penyelamat dan sukarelawan dari seluruh penjuru negara itu dan bahkan dari luar negeri mempertaruhkan nyawa mereka untuk membantu orang-orang di daerah-daerah yang diguncang gempa.Zeng bergabung dengan Ramunion pada 2021 ketika dia sudah mendapat pekerjaan di industri katering. "Namun, setiap kali ada bencana yang membutuhkan upaya penyelamatan dari Ramunion, saya dan rekan-rekan saya akan segera mengajukan cuti dari pekerjaan kami dan berangkat ke lokasi bencana," ujarnya.Pada Juni 2022, wilayah Lushan diguncang gempa dahsyat lainnya. Saat itu Zeng sedang bekerja di ibu kota provinsi Chengdu, tetapi dia bergegas pulang, kali ini sebagai petugas penyelamat, dan menyelamatkan banyak orang dari bahaya.Tiga bulan kemudian, gempa bermagnitudo 6,9 mengguncang wilayah Luding di Sichuan. Zeng dan rekan-rekan setimnya bekerja selama enam hari di sebuah desa yang terdampak parah dan terputus dari dunia luar. Mereka membantu para petugas pemadam kebakaran dalam upaya penyelamatan dan evakuasi serta menjalankan tugas pengiriman dan pendistribusian material bantuan.Dengan semua pengalaman dalam penanggulangan gempa dan keterampilan penyelamatan yang diperoleh melalui sesi pelatihan khusus, Zeng dan rekan-rekannya di Ramunion melakukan pencarian di lebih dari 170 bangunan runtuh di Turkiye dan mengevakuasi sembilan korban selamat yang terperangkap.Bergabung dengan tim penanggulangan bencana internasional untuk pertama kalinya, Zeng menuturkan dirinya memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang konsep komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia."Batas-batas negara tidak berarti saat bencana terjadi karena kita semua tinggal di desa global yang sama," tambah Zeng.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

AS larang penjualan rokok elektrik merek Juul
Indonesia
•
24 Jun 2022

Feature – Pengungsi Palestina cemaskan musim dingin ekstrem di tengah kurangnya pasokan tenda
Indonesia
•
29 Sep 2024

Pemerintah Riyadh libatkan seniman kaligrafi hiasi kota
Indonesia
•
01 Oct 2020

AS alami bulan Juni terpanas kedua sepanjang sejarah di tengah gelombang panas
Indonesia
•
12 Jul 2024


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
